Ular di Ruang Tamu

Ini cerita hari Sabtu kemarin. Anak lanangku bersiap hendak berangkat ke sekolah dengan seragam pramuka. Setelah selesai sarapan, dia menuju ke pintu utama di sebelah kanan ruang tamu. Ritual pagi hari, usai menghabiskan santap pagi, menuju garasi memanaskan motornya sejenak dan akan masuk kembali, mengenakan kaus kaki dan segala perlengkapannya. Helm adalah benda wajib, walau rute yang dia tempuh relatif dekat, dan tidak melewati jalan raya, saya mengharuskan untuk tetap memakainya. 
Tapi pagi hari itu sangat berbeda. Setelah menuntaskan sarapan, langkahnya menuju ruang tamu terhenti, lalu menoleh ke arah saya yang masih berdiri di ruang makan. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung dan berkata perlahan, 
   “Bun, ada ular.”
   “Astaghfirullah, dimana mas?” ucap saya sambil berusaha menahan shock luar biasa. Menahan diri untuk tidak mengeluarkan nada tinggi. Seolah tidak ingin mempercayai ucapannya. Karena diapun terlihat tidak terlalu panik mengucapkan kalimat itu, cenderung datar malah.
   “Itu.. jalan ke bawah meja” sambungnya lagi, dengan posisi masih mematung.
Saya mengarahkan pandangan ke lantai dekat meja ruang tamu, tapi tidak melihat apapun kecuali keramik putih yang masih bersih walau pagi ini belum sempat disapu. Memang tidak berharap benar-benar melihat ular. 
   “Panggil ayah diatas, bilang ke ayah” suara saya mulai sedikit bergetar, mencoba menguasai dag-dig-dug hati ini.
   “Sebentar…,” seraya melanjutkan langkahnya menuju pintu depan, keluar, memanaskan motornya. Oh..ternyata ritual itu tetap dilanjutkan, hmm.., saya terdiam mengamati langkahnya, dan  mencoba tetap tenang.
Tapi apa yang terjadi setelah ayah berlari turun, dengan si mas mengikuti dibelakangya, ternyata ular itu tidak terlihat. Ayah mencari kesana kemari di seluruh ruang tamu, melihat di balik sofa, menggeser kursi. Tetap nihil, 
   “Hmm.., bunda lihat ularnya? atau hanya si mas yang lihat?” tanya ayah.
   “Hanya mas yang lihat yah, bunda tidak melihatnya” 
   “Oh..,” hanya itu jawabnya sambil tersenyum. 
Aku menangkap kesan kalau ayah berpikir bahwa si mas telah salah lihat. Atau berfantasi saja. Karena ayah terlihat sudah menghentikan usahanya mencari. Memang suatu hal yang aneh, kami tinggal di komplek perumahan. Kanan, kiri, depan, belakang berbatas rumah tetangga. Selama ini belum pernah melihat atau mendengar ada ular di sekitar sini.
Dengan berseragam pramuka, menunda keberangkatannya ke sekolah, si mas meraih payung dan tetap berusaha mencari, mengarahkan ujung payung kesana kemari berupaya menjangkau setiap sudut di bawah meja. Penasaran rupanya. Kali ini dia pusatkan pencarian di meja sudut sebelah kiri ruang tamu. Memang ada dua buah meja di ruang tamu, saya baru menyadari, meja di sudut kiri inilah maksudnya tadi.
   “Nah itu dia yah..” dia berseru, dan ayah langsung menghampiri.
Betapa beraninya, kataku dalam hati, dia yakin dengan penglihatannya. Perasaanku ketar-ketir tidak mengerti apakah ini jenis ular berbisa atau tidak. 
   “Lemparin garam pak..” kata Si mbak pembantu di rumah, berjalan dari arah dapur, membawa toples garam dan melemparkan segenggam garam ke arah ular itu. Hewan yang wujudnya belum terlihat karena pandanganku terhalang dinding, sehingga tidak bisa melihatnya  dari posisi saya berdiri. Saya langsung teringat, si mbak pernah bercerita bahwa bapaknya adalah pawang ular, yang wafatnya juga karena digigit ular. Betapa tragis. Seorang pawang biasanya merasa kebal terhadap gigitan ular, tapi kali ini ternyata gigitan seekor ular kecil sangat mematikan. 
   “Besar nggak mbak, ularnya” tanyaku
   “Enggak bu, kecil kok, sepertinya ular air atau ular sawah”
   “Emang dengan garam bisa mati mbak?” lanjutku
   “Iya bu, mati ular kalo pake garam” katanya dengan yakin
   “Mungkin karena seharian kemarin kering, cuaca panas, jadi dia nyasar” lanjutnya, mencoba menganggap ini adalah hal yang biasa, bisa diterima.
Ayah masih sibuk dengan payungnya berusaha menghalau binatang yang sudah sekarat itu. Si mas menjadi supporter, di bantu si mbak. Sepertinya ular itu menjadi bertambah liar karena kondisinya yang sekarat. Aku menaiki tangga dengan perlahan, menuju kamar, menyingkir dari keributan pagi ini.
Pertama kalinya dalam puluhan tahun hidup di dunia, mengalami ada ular di ruang tamu. Walau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Kekagetan yang hampir mirip dengan kejadian di tahun 2007, ketika masih tinggal di Jakarta. Pertama kalinya dalam seumur hidup, mengalami banjir. Padahal delapan tahun tinggal di perumahan itu, tidak pernah banjir. Saat itu, derasnya air menyebabkan tanggul dekat komplek jebol. Jam 10 malam, tiba-tiba satpam berteriak-teriak, anak-anakku terbangun kaget, dan tak lama, air sudah masuk rumah.
Selalu ada yang pertama, dengan suksesnya yang pertama ini butuh waktu cukup lama untuk normal kembali. Betapa tidak, beberapa hari ini, tiap pagi saya merasa sangat berat melangkahkan kaki ke bawah. Setelah sampai di bawah, tengok kiri tengok kanan slow motion. Sebisanya menghindari dekat-dekat area ruang tamu.
Pengalaman pertama sejatinya adalah pembelajaran. Acapkali membawa sesuatu yang berharga, bagaimana kita bisa melewati dan mengatasi kepanikan bahkan kengerian. Walau saya tetap berharap, semoga ini menjadi yang pertama juga yang terakhir kalinya.

 

12 Comments

Add a Comment