Jika Secangkir Kopi Menulis Puisi

secangkir kopi menulis puisiJika Secangkir Kopi Menulis Puisi, Ingin tahukan Anda bagaimana jika secangkir kopi menulis puisi? Seperti layaknya manusia maka tentu saja ia ingin menulis mengenai kisah hidupnya dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tentang bagaimana perasaannya dan juga bagaimana kesenangan pun kepahitan yang pernah ia alami. Terutama kisahnya dengan sorang sahabat penulisnya. Beginilah kira-kira isi puisinya:

Aku yang Setia

Kadang aku lelah harus menunggumu

Aku juga letih melihatmu terus menerus duduk dengan posisi yang sama

Tidak hanya sebentar tapi berjam-jam

Selama itu pula aku setia menunggumu

Karena aku tahu kau mempercayakan aku untuk selalu menjadi teman setiamu

Aku tidak akan pernah marah ketika kau lupa padaku

Atau bahkan kau mencampakanku begitu saja karena keletihanmu yang sudah terlalu.

Aku berusaha tetap tegar dan terjaga sekalipun engkau sudah terlihat terkantuk-kantuk.

Saat kau mencari-cari keberadaanku

Saat kau merasa membutuhkanku untuk membuatmu tetap terjaga

Tetap menghentakan jari-jarimu diatas kotak-kotak kecil

Dengan jejeran alfabet di atasnya

Dan aku tetap setia menunggumu

 

Hisaplah Kepahitan Dalam Tubuhku

Aku memang pahit, tidak manis seperti gadis manis yang engkau puja-puja

Aku juga tidak secantik selebritis yang menjadi idolamu

Tapi aku tahu justru karena itulah kau selalu merindukan keberadaanku

Engkau selalu mencari-cari aku hingga ke ujung dunia

Engkau membutuhkanku lebih dari yang kutahu

Dan karena itu aku relakan seluruh kepahitan yang ada di tubuhku untukmu

Untuk menguatkanmu

Untuk membuatmu tetap terjaga di sini bersamaku

Dan setumpuk ide yang ada di kepalamu

Walaupun setelah itu kau hempaskan aku begitu saja

Kau biarkan aku berlalu bahkan kau cari lagi secangki kopi yang lain

Tapi aku tak marah

Aku tetap akan menjadi teman setiamu

Menemani malam atau siangmu

Dengan ratusan kertas kosong yang siap diisi dengan tulisanmu

Karyamu yang dinanti banyak pencinta tulisanmu

Dan aku rela…Memberikan pahitku untuk membuatmu segar kembali

Hanya untuk menyelesaikan apa yang sudah kau mulai

Karena aku tak rela jika apa yang kau mulai tidak pernah kau selesaikan

Semoga pahitku dapat menjadi manis untuk masa depanmu kelak

 

Begitulah kira-kira jika secangkir kopi menulis puisi. Untuk seorang penulis yang selalu ia temani setiap harinya. Tidak hanya malam, tapi juga siang hari. Kapanpun saat sahabatnya itu membutuhkannya. Bagaimana hari-hari atau bahkan-bahkan malam yang ia melewati bersama sahabat sejatinya itu. Bagaimana kesetiannya yang selalu memberi tanpa syarat atau bahkan meminta imbalan apapun.

Bagaimana ia dengan sabar dan setia menemani sahabat sejatinya untuk menuliskan karya-karyanya. Tanpa berkeluh kesah, tanpa amarah tapi tetap diam dalam keheningan dan berharap sahabat sejatinya benar-benar menuntaskan pekerjaanya. Melahirkan karya-karya terbaik yang ditunggu para pembaca yang tiada lain pencinta karya-karyanya.

Secangkir kopi rupanya sangat mengenal bagaimana dirinya dan sahabat sejatinya itu. Bagaimana ia diperlakukan terlepas dari semua pengorbanan yang telah diberikannya. Untuk membiarkan rasa pahit miliknya dinikmati sampai habis. Semata untuk membuat sahabat sejatinya tetap kuat dan bertahan untuk menyelesaikan tulisan-tulisannya.

Sesederhana itulah jika secangkir kopi menulis puisi. Ia tidak suka basa basi. Tidak suka bermain majas. Ia hanya ingin menulis dengan jujur dan apa adanya. Tentang dia, sahabat sejatinya dan juga perasaannya serta pengorbanannya. Semua yang ia berikan dengan tulus tanpa menginginkan perlakuan lebih dari yang semestinya ia dapatkan seperti kodratnya sebagai secangkir kopi.

Ini membuat kita sadar bahwa betapa berjasa secangkir kopi untuk penulis yang menjadikannya teman setia. Penulis yang menjadikan kopi sebagai teman menulisnya. Terutama di saat ia harus bekerja lebih keras dalam menyelesaikan tulisan atau naskah-naskah yang harus segera diselesaikannya. Terutama untuk membuatnya terjaga dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan tulisannya hingga selesai. Seperti kata puisi secangkir kopi ketika secangkir kopi menulis puisi.

Walau bagaimanapun rasa kantuk dan mata lelah sudah menjadi keseharian yang dirasakan oleh para penulis. Terutama mereka yang hanya bisa menulis di waktu maam hari. Waktu seharusnya mereka tertidur yang justru menjadi waktu mereka bekerja. Secangkir kopi dapat membantu mereka melewati fase-fase kritis ini hingga akhirnya mereka terbiasa.

Terbiasa menulis di malam hari, dan terbiasa ditemani kopi hingga pagi menjelang. Demi pekerjaan, menyelesaikan berbagai tulisan yang sudah dimulainya. Karena tulisan itu tidak akan pernah menjadi sesuatu jika tidak diselesaikan. Tulisan-tulisan itu baru berarti jika sudah selesai dan dibaca oleh para pembaca. Mereka pecinta buku yang menikmati karya-karya yang ditulis para penulis. Atau mereka yang gemar membaca setiap tulisan yang memang mereka butuhkan entah sengaja ataupun tak sengaja. Mari kita beri apresiasi untuk secangkir kopi yang menulis puisi ini. Itupun jika secangkir kopi menulis puisi.***

2 Comments

Add a Comment