SABTU PAGI DI RUMAH

Home Sweet Home

Home Sweet Home


SABTU PAGI DI RUMAH. Alangkah kangen Aq dengan rumah. Indahnya sabtu pagi membuka mata di kamarku tercinta. Kamarku di lantai dua suatu bangunan yang disebut RUMAH. Udara segar kota bandung mengalir di setiap sudut. Wow.. suatu rasa syukur sederhana yang sering terlupa untuk diluapkan sampai luber. Rumah, yang normal adalah sebuah bangunan dengan atap, pintu dan jendela, terdiri dari beberapa ruang di dalamnya. Paling tidak ada ruang tidur, kamar mandi dan dapur. Sirkulasi udara dan cahaya yang memadai. Rumput dan pohon di halaman. Ada teras, seberapapun besarnya. Semeter, dua meter.. puluhan meter bahkan ratusan meter sesuai kemampuan masing-masing.
 
Berdalih kebutuhan, kala ini rumah tidak lagi harus seperti itu, tapi bisa jadi bentuknya “Rumah Petak” karena cuma sepetak-sepetak, berderet menyamping. Dan rusun, “Rumah Susun” dengan bahasa keren Apartemen. Aq tidak mau menyebut rusun itu sebagai rumah, tapi aku sebut sebagai “Tempat Tinggal”. Yup..! seringkali aku harus tinggal di rusun, sebagai tempat persinggahan di ibu kota kita yang ajaib. Demi menyelesaikan urusan pekerjaan. Melangkahkan kaki depan satpam, melewati pintu kaca, diangkut oleh kotak besi pengap dengan segala rupa aroma hingga ke lantai belasan, lalu menelusuri sebuah lorong dengan deretan pintu-pintu putih seperti bangsal rumah sakit. Lupakan tentang teras! Hanya ada sebuah balkon ukuran imut tempat kita bertukar nafas dengan kepekatan polusi. Yang terkadang disalahgunakan oleh manusia putus asa untuk terjun bebas mencium aspal, mencoba mengakhiri beban hidup yang tak tertahankan.
 
Tetangga? Ow… kalo kenal tetangga itu untung benar. Karena sibuk semua oy.. nggak sempatlah bertetangga ria.  Paling mantap adalah sebuah lokal di lantai paling bawah yang ramai, deretan resto indoor bergandeng outdoor tempat berkumpul dan bersantai penghuni dari 12 menara ini menikmati menu makanan. Masak itu pekerjaan mewah di sini, juga mencuci baju. Ruang sempit tidak nyaman untuk memasak. Cooker hood juga terengah-engah menghisap uap masakan yang akan bikin hidung tetangga gatal-gatal. Tidak ada tempat lagi untuk  menjemur pakaian. Makanan jadi dari puluhan warung kecil hingga resto fine dining lebih praktis  untuk memenuhi kebutuhan perut. Juga jasa cuci baju dari yang kiloan sampai laundry kelas premium

Apartemen Rusunami


 
Waktu bersantai yang sempit setelah jam kerja, sering dimelarkan hingga larut malam di dasar bangunan-bangunan tinggi ini. Sepertinya Apartemen alias rusun-qu ini salah satu yang paling ramai di ibukota ajaib kita. Berebut oksigen dengan ribuan penghuni lain. Tetapi tetaplah menarik untukku, karena warna ibu kota tergambar disini dalam versi mini.
Berbagai rupa manusia, wara-wiri mencari isi perut, atau sekedar mencari sedikit nafas segar yang kuragukan keberadaaannya, bunda-bunda atau mbak-mbak baby sitter yang mendorong kereta bayi berputar di areal taman, ada yang sibuk “meeting” mengais rejeki dari proyek yang bakal deal di tempat ini, ada yang cuma cekikikan ngobrol ngalor ngidul dan sebagainya. Dengan penampilan yang tidak kalah semaraknya, dari yang hanya bersarung, rok mini atau celana super pendek dengan atasan yang tak kalah “super”nya, ada yang berhijab warna-warni sampai yang bercadar bercampur baur.
Manusia Ekspatriat berbagai warna kulit, hitam ,kuning, putih bule dan sebagainya juga ada. Membuat tak lelah kubertanya pada otakku sendiri, “apakah tempat yang tepat untuk membesarkan anak? Terutama anak balita?” hanya helaan nafas panjang yang bisa menjawabnya. Walau infra struktur pendidikan cukup memadai di wilayah sini, tetapi agak sulit untukku membayangkan bagaimana metode penjagaan telinga dan mata generasi balita kita ini?, dihadirkan pada kenyataan sedemikian rupa. Belum lagi gempuran tayangan televisi. Untuk hal ini mungkin akan ada pembahasan tersendiri.. coming soon.

SABTU PAGI DI RUMAH

            Pagi hari ini Thank you Allah, SWT. Yang masih memberikan aq kesempatan menghirup udara pagi yang bersih, dengan kicau burung di balik jendela kamar. Bau rumput basah menyeruak ketika kubuka pintu ke teras belakang, setelah mengantar si bungsu kelas 8 ke depan rumah, hendak berangkat ke Gasibu dan bermain futsal dengan teman-temannya. Sekarang waktunya bercengkerama dengan kumbang…
Home Sweet Home
Lisa Gopar

One Response

Add a Comment