ROAD TO BOROBUDUR WRITERS & CULTURAL FESTIVAL 2013

Diskusi kedua dalam rangkaian acara Road to Borobudur Writers & Cultural Festival 2013 sudah berlangsung pada 31 Mei lalu. Namun kesibukan yang tak henti membuatku belum sempat menuliskan cerita dari rangkaian acara tersebut.

Alhamdulillah hari ini bisa punya waktu menyelesaikan PR yang belum selesai ini.


Puncak acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2013 akan diadakan di Magelang dan Yogyakarta pada 17-20 Oktober 2013. Di tempat yang sama seperti kegiatan perdana festival tahun lalu. Adapun tema festival tahun ini adalah “Arus Balik: Bahari dan Rempah Nusantara, antara Kolonial dan Poskolonial”
Hadir pada diskusi dan debat terbuka kali ini sudah kuagendakan jauh hari, karena kondisi kesehatan,  aku berhalangan hadir pada acara pertama dua bulan sebelumnya.  Materi yang dibahas dalam acara yang berlangsung pada malam sabtu ini, adalah mengenai Peradaban Bahari dan Rempah Nusantara. Mengusung tema Pulau Run. Direncanakan hadir sebagai pembicara, Bpk Made Wianta, Dr. G Budi Subanar , Dr. Didik Pradjoko.  Namun karena pak Budi berhalangan hadir, digantikan oleh Ouda Teda Ena sesama pengajar dari Universitas Sanata Darma, Yogyakarta.

RUN TO MANHATTAN

Pulau Run? Sepertinya banyak dari kita tidak mengetahui tentang Pulau Run. Dimana dan ada apa dengan Pulau ini. Ya, pulau Run adalah sebuah pulau kecil di kepulauan Banda. Ada yang menyebutnya pulau Rhun atau puloroon. Mungkin sudah ada beberapa orang yang mengulas tentang pulau ini, menuliskannya di blog. Tetapi entah mengapa, sampai saat ini pulau ini hanyalah pulau kosong sepi dan tidak Populer.
Menurut pak Made, seniman gaek lulusan ASRI Yogyakarta thn 1974 ini, beberapa abad lalu Pulau Run adalah sebuah pulau penghasil Pala terbesar di dunia dengan kualitas terbaik yang dikuasai Inggris. Lalu berkecamuk perang antara Belanda dan Inggris memperebutkan wilayah Jajahan. Kemudian dibuatlah Perjanjian Breda (Treaty of Breda) tahun 1667. PULAU RUN yang luasnya hanya 3km x 1km persegi ditukar dengan Pulau New Amsterdam, koloni Belanda di wilayah Amerika. Belanda lalu menguasai Pulau Run, yang luasnya 20 kali lebih kecil dari New Amsterdam yang sekarang bernama MANHATTAN.Sekarang dikenal sebagai pusat perekonomian dunia dengan ikon kota New York yang gemerlap.
Setelah merenungi kenyataan ini, pak Made lalu menyiapkan sejumlah rencana untuk Art Project “Run to Manhattan” yang bertujuan mengangkat kembali sejarah peradaban bangsa. Hal ini didiskusikan pula dengan seniman dan budayawan senior lainnya, Romo Mudji Sutrisno, Taufik Rahzen, Nirwan Ahmad Arsuka dan Seno Joko Suyono untuk mengangkat sejarah Nenek Moyang Nusantara.
Terenyuh diriku melihat antusiasme pak Made yang sudah sepuh untuk kembali melakukan riset mendalam dan napak tilas mengenai Pulau Run. Bahkan mengajak putrinya yang saat ini tinggal di New York untuk sesekali pulang ke Indonesia menggali sisa sejarah Pulau Run yang begitu jauh perbedaan perkembangannya dengan New York.

Pak Made bahkan sampai rela tinggal di pulau sepi itu selama sebulan. Walau sudah tidak gesit lagi, tetapi pak Made saat berbicara masih terlihat sehat, beliau mengenakan jeans biru dan kemeja berbahan jeans pula, dibantu putrinya yang menyajikan slide show kondisi pulau Run saat ini.

Slide show kondisi P. Run saat ini
Pak Made Wianta
Acara dilanjutkan dengan pembahasan sebuah Novel “Nathaniel’s Nutmegs” karya Giles Milton, oleh bapak Oude Teda. Sebetulnya untuk dikatakan sebuah novel, buku ini tidak memiliki tokoh utamanya. Lebih mirip buku sejarah yang “diFiksi-kan”. Mengapa novel ini diangkat untuk didiskusikan? Jawabnya adalah karena di novel ini banyak diceritakan kejayaan Pulau Run dimasa lampau. Diskusi dilakukan dengan pendekatan Neo-Historik, dalam rangka menggali kembali dan me’nafsirbaru’kan. Sayang sekali memang, dokumen, manuskrip dan buku-buku informasi sejarah bangsa banyak yang telah musnah, sehingga kita justru mendapatkannya di luar negeri. Dari karya-karya orang asing.
Nathaniel disebut membela Negara lebih daripada membela dagangannya. Bagaimana Patriotisme seorang lelaki mengubah jalan sejarah. Pak Ouda lalu memberi judul materi tulisannya, “Dicari: Pedagang yang Patriotik dan Nasionalis” hmm.. membuatku berpikir bahwa ini hal yang tidak mungkin. Kalau dia patriotik dan nasionalis ya artinya dia bukan pedagang 😉 hal yang di”amin”kan pula oleh Romo Mudji yang duduk disebelahku. Hal yang jarang terjadi, bisa punya kesempatan duduk disebelah Romo Mudji dan dicipratkan kuliah singkat dari dosen senior di fakultas sastra UI ini.
Bersama Romo Mudji dan Viddy Ad Daery
Hari telah bergerak bertambah larut, President Lounge Menara Batavia, Jakarta sudah berselimutkan gelap malam. Acara tanya jawab masih berlangsung meriah dan seperti biasa, kekurangan waktu. Mbak Yoke sebagai ketua penyelenggara juga seolah enggan menutup acara kali ini, tetapi apa boleh buat, dari pada diusir satpam haha…
Pada tahun 2017 mendatang, sejarah pertukaran kedua pulau ini genap berusia 350 tahun. Semoga menginspirasi generasi muda Indonesia akan potensi besar bangsa ini. Tahun 1619, nilai pulau Run sama dengan nilai Manhattan Island. Saat ini, bisakah kita mensejajarkan New York dengan Pulau Run? Pertanyaan berikutnya, AKANKAH NASIB BANGSA INDONESIA SEPERTI PULAU RUN?
Road to Borobudur Writers Cultural Festival  Road to Borobudur Writers & Cultural Festival
Mbak Yoke Darmawan 
dan Para Pembicara

 

3 Comments

Add a Comment