Nggak Nyangka

ONCE UPON A TIME

“Lis, kamu harusnya sudah punya asisten pribadi”
“what? apa ma?” saya agak kaget mendengar pernyataan mama tadi, sambil meneruskan membereskan baju yang sudah terlipat rapi, dan memasukannya ke dalam lemari di apartemen.
“yaa.. untuk membantumu mengurus semua barang-barang pribadimu ini”,  lanjut mama yang sedang berkunjung ke apartemenku.
“Hm.. apa sudah perlu? sepertinya aku masih bisa mengurusnya sendiri”, jawabku sambil merenung. Betapa tidak, mama memikirkan kerepotanku untuk mengurus barang-barang yang berada di tiga tempat. Rumahku di Bandung, Rumah di Jatiasih dan di Apartemen. Belum lagi di Kantor.

Alhasil saya punya 3 lemari baju yang berada di tiga tempat. Meja kerjapun begitu, satu di rumah bandung, satu di apartemen dan satu di kantor. Karena kantor ini adalah bisnis dan usaha pribadi dimana saya sebagai ownernya, sayapun harus mengurusnya sendiri. Nyatanya saya harus maintain 4 tempat secara keseluruhan. Membayar biaya listrik, dan biaya perawatan. Rempong? ya iyalah.

Seringkali saya terlupa meninggalkan berkas di meja yang mana. Yang saya ingat saya telah meletakan dokumen di meja kerja. Tapii.. meja kerja yang mana? di Bandung apa Jakarta. Nah kebayang kan keruwetan karena faktor U ini. Saya harus bergantung kepada yang namanya “Buku Agenda” dan notes pada smartphone, untuk mencatat semua jadwal saya berikut catatan kecil seperti tadi. Duh, mungkin catatan gak penting yah cuma tentang narok dokumen dimana, tapi yagimanaa.. bertambah usia bertambah pula pelupanya. Dulu waktu masih muda berasa seperti Super Woman yang bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Tapi itu dulu.. lain dulu lain sekarang.

Print

Untuk efisiensi dan memaksimalkan produktifitas. Semua staf saya sudah punya Job desk masing-masing urusan pekerjaan kantor. Bahkan ada yang merangkap beberapa pekerjaan sekaligus. (Walau ada juga siy yang kerjanya chatting pribadi dan malas-malasan.. sst.. off the record ya *Curcol haha). Kadang-kadang mereka bisa membantu menjadi Aspri alias Asisten Pribadi, tetapi tidak selalu bisa begitu. Saya tetap mengupayakan mengurus sendiri barang-barang pribadi.

 

LEPASKAN SATU

Kebetulan suatu hari sepupu saya butuh rumah untuk disewa. Dia dipindah tugaskan dari Cirebon ke Jakarta. Rumah kesayangan saya di Jatiasih saya sewakan kepadanya. Melepas satu urusan dulu deh. Supaya saya tidak terlalu disibukkan dengan pemeliharaannya.

Pasti pembaca semua bertanya-tanya ya, ngapain sih tinggal di segitu banyak tempat hehe.. . Singkatnya begini, rumah saya di Jatiasih, lalu suami pindah tugas ke Bandung. Kami sekeluarga pindah ke Bandung. Anak-anak pindah sekolah di Bandung. Saya menghentikan bisnis di sini dan fokus mengurus dan mengantar jemput sekolah. Saya hanya menulis dan belajar bisnis internet disela waktu luang.

Ternyata setelah kepindahan tersebut, dan anak-anak mulai biasa berangkat sendiri ke sekolah naik motor,  saya harus kembali menangani proyek di Jakarta. Jadilah saya menyewa apartemen di Kalibata yang dekat dengan pusat kota.

Saya tidak kembali menempati rumah yang di Jatiasih. Butuh waktu minimal 1 jam bahkan sampai 2 jam untuk menembus kemacetan Jakarta. Sedangkan kantor juga berada di area Kalibata. Begitulah.. .

NGGAK NYANGKA

Ngga nyangka. Ya itu kata-kata yang paling tepat! Kalau menurut EYD bilangnya, “Tidak Menyangka”. Hm.. ngomongin apa sih nih? hihi..

Iya saya sama sekali ngga nyangka ternyata harus pindah rumah lagi. Ini rumah ke sepuluh dalam kehidupan pernikahan saya. Padahal saya bukan isteri tentara atau polisi yang memang biasa pindah-pindah sesuai penugasan.

Baru 1,5 tahun lalu saya kembali menempati rumah di area Jatiasih, yang saya beli di awal tahun 2007 ini. Setelah 4 tahun tinggal di Bandung. Selama di Bandung rumah tersebut saya kontrakan. Dan ketika anakku diterima kuliah di UNJ Rawamangun, kami sekeluarga memutuskan untuk kembali ke Jatiasih.

Bagaimana ceritanya sih, kepindahan ini bisa jadi rumah kesepuluh. Mau tahu aja apa mau tahu bingittss? Nanti saya share di artikel berikutnya.

 

 

Add a Comment