Naik Batik Air Harus Bawa Earphone

Naik Batik Air harus bawa EarPhone

foto from: http://thedesignair.files.wordpress.com/2013/05/903496_537178396334726_2087539181_o.jpg

Akhirnya, dapat juga kesempatan mencicip penerbangan Batik Air. Salah satu penerbangan terbaru di ranah lalu lintas udara dalam negeri. Alkisah, hampir semua brand burung besi yang bertarung di kancah lokal sudah dicicipi. Kali ini, dengan bekal eTicket itinerary Jam keberangkatan 18:20, pukul 16.30 aku sudah menjejakkan kaki di Terminal 3, Bandara Sokerno Hatta, Jakarta. Semangat untuk tidak terlambat, khawatir bersamaan dengan pegawai-pegawai pulang kantor. Cek-in counter Batik Air berlaku untuk semua destinasi, dan ada 2 counter. Mbak petugasnya cukup ramah, dengan antrian yang belum panjang, hanya 1 orang di depan kami. Memberitahu jadwal boarding 17.50, hm.. artinya masih cukup waktu untuk ngopi sore. Membahas jadwal rangkaian perjalanan kali ini beserta targetnya.

MenenIMG_00007605gok ke pengalaman terbang dihari-hari lalu, aku merasa wajib mencicipi Batik Air. Dengan alasan, keberangkatan dari terminal 3. Kenapa begitu? Ya karena menurutku, Terminal 3 adalah yang paling layak dan nyaman untuk penerbangan domestik. Selain Terminal 2 ya, karena di sana hanya khusus Garuda Indonesia, selebihnya hanya untuk  penerbangan Internasional. Terminal 1 A-B-C, yang selama ini biasa dipakai untuk maskapai domestik sudah terlalu ramai dan krodit, juga terkesan kumuh yang tidak begitu jauh beda dengan Terminal Bus Antar Kota. Sehingga apakah keberadaan Batik Air bisa jadi opsi dalam pemilihanku untuk menemani perjalanan berikutnya. Nama BATIK AIR juga amat menarik menurutku, sangat mencerminkan Indonesia, sekaligus memberitahu (lagi) pada dunia bahwa Batik memang punya Indonesia.

IMG_00007604

Terminal 3 pada awalnya hanya di pakai untuk keberangkatan Jemaah Haji dan maskapai penerbangan AirAsia.  Untuk perjalanan dinasku dengan biaya kantor, pilihan pertama selalu jatuh pada Garuda Indonesia, kecuali dengan terpaksa memakai maskapai lain karena jadwal atau rute yang dibutuhkan sedang tidak tersedia seperti kali ini. Untuk perjalanan hadiah dari beberapa mitra kerja, membawaku menaiki Merpati, Mandala,  Sriwijaya Air, Batavia, Lion Air dan bahkan yang sudah almarhum seperti Sempati dan Adam Air. Semasa kecil, kerap kali kunaiki Pelita Air, yang beroperasi khusus untuk karyawan Pertamina tempat papaku bekerja. Nah.. untuk perjalanan biaya sendiri, pilihanku beberapa tahun belakang ini selalu jatuh pada AirAsia. Ya itu tadi, karena kenyamanan Terminal keberangkatan/kedatangan dan berbagai kemudahan lainnya seperti mobile check-in dan cetak boarding pass sendiri. Café dan Resto yang lebih rapi, bersih dan nyaman.

Desain terminal yang agak mirip bandara Changi di Singapore, dan area ruang aktifitas bandara yang jauh lebih luas dari areal di Terminal 1. Walau sekarang sudah mulai bertambah ramai karena semua penerbangan maskapai domestik tujuan Bali juga memakai Terminal 3, ditambah pula dengan armada baru dari Mandala yang ganti baju menjadi Tiger Air, plus Batik Air yang akan kunaiki. Kesempatan berikut, aku meniatkan diri akan mencoba Tiger Air, dulu bernama Mandala, dengan pesawat-pesawat barunya yang seolah-olah memanggilku untuk menaikinya.

Mengintip di balik kaca ruang bandara, ternyata cuaca di luar sudah gelap akibat awan mendung kelabu tebal, tak lama disusul hujan deras. Jadwal boarding mundur 40-50 menit, atau lewat sekitar 20 menit dari jadwal keberangkatan. Okeylah, bisa dimaklumi karena cuaca hujan deras disertai angin kencang. Kedatangan pesawat-pesawat di bandara ini cukup terganggu cuaca.

Perhatianku sekarang tertuju kepada deretan calon penumpang yang duduk di ruang tunggu ini. Sebagian, turis asing yang hendak berwisata menuju Jogja. Mereka datang dari berbagai etnis, ada yang dari China, India, dan bule-bule mungkin Eropa dan Amerika. Tidak mengherankan karena Jogja saat ini merupakan destinasi tujuan wisata kedua setelah Bali.

Akhirnya setelah mulai bosan menunggu, kami dipersilakan boarding melalui gerbang keberangkatan. Tapi apa mau dikata, ternyata diharuskan menunggu lagi bis bandara membawa kami ke pesawat yang sebetulnya parkir tidak terlalu jauh. Bisa dicapai dengan berjalan kaki. Hanya saja cuaca yang masih hujan memaksa mereka menjemput kami dengan Bis shuttle Bandara. Sedangkan untuk GI,  kebanyakan penerbangan menggunakan garbarata atau ada yang menyebutnya belalai untuk masuk ke dalam pesawat.

Melangkah pertama kali ke dalam kabin pesawat, langsung terasa bahwa pesawat ini baru. Pramugari ramah, cantik-cantik,  memakai atasan putih model kebaya modern dengan lilitan kain batik berwarna ungu. Tampil dengan make-up dan riasan rambut sempurna. Sepertinya mereka pramugari senior, terlihat dari usia dan penampilan serta gerak cekatan mereka. Beda dengan gaya pramugari maskapai saudara mereka Lion Air, yang terkesan Jutek dan tidak sabaran. Membawa rasa penasaranku menggali lebih dalam, apakah maskapai baru yang sepertinya ditujukan untuk pelanggan Lion Air di kelas Premium ini bisa menandingi pelayanan Garuda Indonesia.

Interior yang cukup bagus, bersih dan baru, walau secara kualitas tidak berbeda jauh dengan rekan sekelasnya. Tersedia pula kelas Bisnis. Setiap tempat duduk memiliki legroom yang cukup luas, dan dilengkapi dengan layar monitor sentuh (touch screen). Sama seperti di Garuda Indonesia, hanya saja, tayangan yang tersedia masih sangat terbatas. Untuk film, cuma tersedia 5 film, begitu juga musik hanya tersedia 5 album dan semuanya serba 5 file. Dan ternyata, ada yang membuatku cukup kaget adalah, mereka tidak menyediakan earphone atau headphone. Ya.. ternyata naik Batik Air harus bawa earphone sendiri, sodara-sodara.

535933_533719356680630_339543689_n

foto from: http://thedesignair.files.wordpress.com/2013/05/535933_533719356680630_339543689_n.jpg?w=710&h=710

Dari kami berempat yang berangkat kali ini, hanya aku yang membawa earphone, sehingga ketiga rekanku hanya bisa menyaksikan film bisu tanpa suara haha… . Ya, berbeda dengan GI yang menyediakan headset di tiap tempat duduk, di penerbangan ini, kita harus membeli headset seharga Rp.25.000 apabila ingin menikmati suara musik ataupun film.

Antri mengantri dan tunggu menunggu ternyata belum usai. Pesawat diharuskan menunggu lagi sekian lama untuk lepas landas (take off). Antri lagi, lama lagi, rekanku sempat melihat sekilas dari jendela, ada lima pesawat di depan kami. Sesampainya di atas kota Jogja juga ternyata  belum mendapat ijin untuk mendarat (landing). Pesawat harus berputar-putar di atas kota Jogja selama kurleb 20  menit. Kami menikmati wisata udara di malam hari.

Teringat cerita salah seorang teman yang mengalami hal serupa dengan penerbangan perdananya menggunakan pesawat dengan buntut bergambar batik ini. Apakah semua ini terjadi karena penerbangan ini masih baru sehingga jatahnya selalu belakangan, atau memang karena cuaca? Who knows. Atau karena hampir di setiap bandara, sedang dilakukan renovasi atau perluasan, walahualam.

Penerbanganku bersama Batik Air,

Excited not too excited

4 Comments

Add a Comment