Menulis Pahitnya Hidup Seperti Rasa Kopi

menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi Menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi tentu lebih mudah daripada menulis sesuatu yang tidak berasa. Kata-kata ini rasanya juga familiar. Ya, sebuah buku yang menuangkan mengenai kepahitan hidup yang dirasakan mereka yang pernah hidup dengan orang-orang psyco yang menyakiti orang yang mereka cintai. Orang yang mereka pilih untuk menjadi partner hidup mereka sampai tua. Perempuan yang pernah mereka kejar habis-habisan hingga akhirnya mereka habisi.

“Habisi” rasanya menjadi kata paling tepat untuk apa yang para psyco itu lakukan. Menampar, memukul, mencaci, menyeret, dan sederet kosakata lain yang membuat pihak lain tersakiti. Tidak hanya fisik mereka tapi juga jiwa mereka. Seharusnya bukan seperti itu jika mencintai, menyayangi. Bukan dengan kekerasan tapi dengan kelembutan hati.

Perempuan itu Rapuh sekaligus “Kuat”

Mari Menulis Pahitnya Hidup Seperti Rasa Kopi

Ketika para perempuan ini menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi mereka juga akan menuliskan bahwa ada pula suami yang melakukan kekerasan dengan dalih sayang, dan seribu alasan lainnya. Walaupun tetap saja apapun alasannya perempuan itu makhluk lemah. Bahkan tidak ada satupun ajaran agama yang memperbolehkan wanita diperlakukan dengan kekerasan.

Justru sebaliknya ia harus diperlakukan dengan lembut karena hatinya begitu lembut. Sementara jika berbicara kekuatan mereka ‘kuat’ dengan segala kelemahannya. Mereka bisa melakukan berbagai hal bahkan yang dilakukan pria sementara tidak semua pria bisa melakukan berbagai hal yang bisa dilakukan wanita. Teru tama untuk urusan multitasking.

Seorang wanita bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan. Contoh dekatnya saja dalam melakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka bisa memasak sambil memberi ASI untuk bayinya sekaligus membantu anak lainnya mengerjakan PR. Begitupun dalam melakukan pekerjaan lainnya yang menuntutnya untuk berbagi konsentrasi dan melakukan semuanya dengan baik.

Nurani dan Kodrat Perempuan

Namun kelembutan mereka yang menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi ini pada dasarnya memang sama sekali tidak dimiliki laki-laki. Bagaimana pelukan mereka bisa menyamankan anaknya. Melindungi anak-anak mereka dari berbagai bahaya dan ancaman. Maka jika ada seorang perempuan yang tega melakukan perbuatan keji mulai dari membuang anaknya sendiri, menjualnya atau bahkan membunuh anaknya sungguh sudah di luar batas kemanusiaan.

Namun dihadapan laki-laki apalagi suami mereka, mereka tunduk dan patuh karena begitulah kodratnya. Terutama di Indonesia sebuah negeri yang sitem patriarkinya masih teramat kuat ini. Walaupun sebetulnya jika lelaki itu baik dan benar maka semuanya akan baik. Laki-laki memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, ayah, dan kepala keluarga dan si istri melakukan kewajibannya sebagai istri, Ibu, sekaligus Ibu Rumah Tangga.

Untuk yang terakhir pada masa kini garisnya menjadi abu-abu karena tugas Ibu Rumah tangga sebagai pengurus rumah seringkali didelegasikan kepada ART (Asisten Rumah Tangga). Itupun sebetulnya sah-sah saja asalkan tetap kendali sepenuhnya ada di tangan seorang Istri sebagai pengelola Rumah Tangga. Menjadi Kepala manager di rumahnya sendiri. Sehingga ia harus selalu memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Kenyataannya saat ini tidak sedikit istri yang bekerja atau istilah populernya Ibu bekerja dan itu juga sah-sah saja selama semuanya masih dalam koridor yang benar. Suami, Istri menjalankan peranan masing-masing dengan baik. Saling setia, saling menjaga hati dan pandangannya mengingat janji suci yang mereka ucapkan sewaktu menikah dulu.

Apalagi jika sudah memiliki buah hati. Tidak hanya saling setia dan menjaga hati mereka masing-masing tapi juga bekerja sama untuk menciptakan generasi baru yang cerdas yang merupakan bibit unggul yang akan membangun negeri ini kelak. Pun dalam membesarkan anak-anak mereka. Tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi melainkan juga cinta dan kasih sayang sebagai orang tua kepada anaknya.

Potensi Konflik yang Pahit

Semua itu ternyata tak lepas dari konflik seperti yang mereka tuliskan ketika menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi ini. Terkadang perbedaan cara mendidik dan membesarkan anak atau bahkan ketidak kompakan mendidik anak seringkali menjadi bahan pertengkaran hingga bisa jadi berujung pada kekerasan. Oleh karena itu, hendaknya dibicarakan dengan baik oleh keduanya untuk memastikan keduanya bersepakat mengenai cara mendidik buah hati mereka.

Potensi konflik memang bisa muncul dari mana saja. Namun yang harus selalu diingat bahwa semarah apapun hindari kebiasaan ‘main tangan’ baik dari suami kepada istri atau bahkan sebaliknya. Kendalian amarah Anda dan jangan memancing pihak lainnya untuk memulai kekerasan. Tenangkan diri dan pikirkan kembali komitmen awal pernikahan Anda dan suami.

Jangan biarkan kekerasan menjadi bumbu yang ada dalam Rumah Tangga. Apalagi saat ini semuanya bisa berujung di jeruji besi. Sayangnya, sebagian wanita masih takut untuk melapor karena berbagai alasan. Mulai dari alasan masih cinta, demi anak-anak, demi keutuhan keluarga, menjaga aib suami, dll. Sehingga seringkali kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga menjadi rahasia pribadi. Untuk dinikmati dan dirasakan sendiri sepahit apapun itu.

Itulah sebabnya menulis pahitnya hidup seperti rasa kopi bisa dijadikan alternatif untuk menceritakan kisah pahit yang mereka alami. Bukan untuk mengumbar aib tapi untuk menjadi pelajaran bagi semua wanita di dunia. Pun pasangan suami istri bahwa sebaiknya perilaku ini dihindari karena sama sekali bukan tindakan yang benar. Bukanlah cinta jika menyakiti. Karena cinta hanyalah berbagi kasih sayang. Bukan untuk menyakiti salah satunya.***

2 Comments

Add a Comment