Menjelajah Candi Cangkuang

Candi Cangkuang adalah sebuah candi yang bercorak Hindu. Ini ditandai dengan adanya Arca Dewa Siwa setinggi 40cm di dalam candi. Candi ini berada di sebuah pulau kecil yang berada di tengah danau. Konon danau ini adalah danau yang dibuat Arief Muhamad bersama masyarakat setempat selepas kekalahanya oleh VOC ketika menyerang Batavia. Ia adalah seorang Senopati yang berasal dari Kerajaan Mataram, Yogyakarta.

Danau tersebut dinamakan ‘Situ Cangkuang’. Sama seperti nama desa dimana Candi Cangkuang berada yaitu Desa Cangkuang. Alasannya karena banyaknya pohon cangkuang di kawasan ini. Riuh pepohonan dan semilir angin akan menemani Anda berkeliling lokasi ini. Walaupun tidak seramai lokasi candi yang lain, namun tidak sedikit para wisatawan yang penasaran dan berkunjung ke Candi ini. Baik untuk melihat situs bersejarah ini atau untuk berziarah ke makam Arief Muhammad.

Lokasi Candi Cangkuang

Candi Cangkuang letaknya tidak jauh dari garut kota. Anda cukup menempuh perjalanan 3 Km saja. Bisa dengan menggunakan kendaraan, delman atau berjalan kaki. Karena lokasinya berada di tengah danau maka untuk sampai ke sana Anda harus menyewa rakit atau perahu yang disewakan para penduduk setempat. Masalah harga tegantung kepandaian tawar menawar Anda dengan Sang Nahkoda.

Jika Anda kehausan atau kelaparan, tidak usah khawatir, di kawasan Candi Cangkuang ini terdapat beberapa warung yang dapat Anda sambangi dalam wisata bersejarah yang Anda lakukan. Walaupun hanya sedikit namun cukup untuk membuat Anda memilih yang mana yang akan Anda beli. Mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Begitupun dengan beraneka minuman segar yang juga dijajakan di warung-warung ini.

Keunikan Candi Cangkuang

Salah satu keunikan candi ini adalah lokasinya yang berada di tengah danau. Selain itu ukurannya yang mungil yaitu 4,5mx4,5m dengan ketinggian yang hanya mencapai 8,5 meter juga membuat candi ini berbeda dibandingkan candi Hindu kebanyakan. Walaupun demikian, Candi Cangkuang ini termasuk candi yang lengkap bentuknya karena kita masih dapat menemukan pintu masuk ataupun Arca di dalam candi. Sebuah tangga yang terdapat pada pintu candi memberi petunjuk bahwa candi ini menghadap ke Timur.

Di sebelah Candi ini terdapat sebuah makam muslim yaitu makam Arief Muhammad yang mendirikan perkampungan ini. Ia dan masyarakat setempat membuat danau. Gundukan tanah dari pembuatan danau inilah yang akhirnya membentuk pulau-pulau kecil. Salah satunya yaitu Pulau Panjang yang menjadi tempat Candi Cangkuang berada. Di sini juga terdapat sebuah kampung adat yang unik karena hanya diisi oleh 6 orang kepala keluarga beserta keluarganya yang diseleksi menurut peraturan adat. Jika keturunan mereka sudah menikah, maka secara otomatis anak tersebut harus meninggalkan kampung ini. Mereka bisa kembali jika ada salah satu kepala keluarga yang meninggal sebagai pengganti. Itupun harus atas persetujuan kelompok adat.

Peraturan adat yang lain adalah mejadikan hari Rabu sebagai hari besar kagamaan. Pada hari rabu semua masyarakat wajib melaksanakan berbagai bentuk peribadatan. Mulai dari mengaji, shalat berjamaah, dll. Pada hari ini pula terdapat larangan untu berziarah ke makam Embah Dalem Arief Muhammad. Demikianlah Arief Muhammad dikenal oleh masyarakat setempat. Bahkan hingga saat ini makamnya masih sering dikeramatkan baik oleh penduduk sekitar maupun orang luar.

Sejarah Penemuan Candi Cangkuang

Penemuan berawal dari penemuan makam Arief Muhammad yang disampingnya terdapat sebuah fondasi berukuran 4,5 x 4,5 m sekitar tahun 1967-1968. Di sekitar itulah terdapat bebatuan berserakan. Batu ini kerap kali dijadikan batu nisan oleh masyarakat sekitar apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia. Itulah sebabnya banyak batu yang merupakan bagian dari candi menghilang dari lokasi yang seharusnya.

Vorderman adalah orang yang pertama kali menemukan reruntuhan Candi Cangkuang ini. Ia mencatat penemuannya itu dalam buku Notulen bataviach Genoo Schap yang ia tulis para tahun 1893. Setelah itu barulah pada tahun 1966 dua orang ahli purbakala Inonesia, Drs.Uka Tjandrasasita dan Prof.Harsoyo menemukan kembali candi yang tertelan masa ini. Baru pada tahun 1974 dimulailah proses penggalian, pemugaran hingga rekonstruksi secara total karena hanya ditemukan 40% saja bagian dari bangunan asli. Baru selesai dan diresmikan pada tahun 1976 tepatnya pada tanggal 8 Desember 1976.

Sejarah Candi

Jika dilihat dari bentuk dan kelapukan batuan candi, candi ini diperkirakan sebagai peninggalan umat Hindu pada abad ke-8. Masa yang sama dengan ditemukannya Candi Jiwa, Dieng, dan Gedong Songo. Sehingga Candi Cangkuang. Kesamaan bentuk candi termasuk kelapukan batu adalah sebuah petunjuk yang membuat candi ini dianggap sebagai salah satu mata rantai yang hilang dari peradaban Hindu masa itu.

Di Pulau Panjang tempat Candi Cangkang ini berada Anda dapat menemukan sebuah kerukunan beragama antara Islam dengan Hindu. Bagaimana tidak, makam seorang muslim berada bersebelahan dengan tempat Ibadah orang Hindu. Seorang tokoh Islam yang sebenarnya merupakan seorang Senopati Kerajaan Mataram yang mengasingkan diri ke daerah ini karena kekalahan perang yang ia alami dalam menyerang tentara Belanda. Ia pula yang menyebarkan ajara Islam di daerah ini. Tentunya dengan pengaruh yang sangat kuat hingga tidak sedikit yang memeluk agama Islam. *** (IEN)

Jelajah Candi

Add a Comment