Making Money from Travel Writing

SEMINAR  Travel Writing & Photography 
‘MAKE MONEY FROM YOUR JOURNEY’

Making Money from Travel Writing

SereManis. Mendengar kata itu langsung saya terbayang bumbu dapur sereh walau tanpa huruf ‘h’ dan rasa manis. Apakah sereh dengan rasa manis yang dimaksud pemilik café? Saya belum mendapat jawabannya. Tak ada kesempatan berbincang dengan pemilik, karena hanya 10 detik lagi setelah saya tiba di tempat, acara seminar akan dimulai. 
Suara mbak Rika Tjahyani mulai terdengar mengiringi proses saya daftar ulang dan memilih menu makan siang. Oke, done! ready to… wow.. ini pesertanya banyak sekali ya. Selayang pandang, semua kursi telah terisi, memenuhi deretan panjang meja-meja di lantai 3 café ini. Mata saya mulai lirik kanan-kiri mencari sosok sahabat, mas Bima Saskuandra, yang sudah mencadangkan satu kursi untuk saya. Nah itu dia, di sayap kiri. Lega rasanya sudah dapat tempat duduk.

 

Usai mbak Rika membuka acara, mbak Hannie yang merupakan pemred majalah Pesona dari Femina Group mulai membawakan penjelasan mengenai “making money from your travel writing” Pembahasan serupa dengan acara yang saya ikuti di Bandung beberapa waktu lalu. “win editor’s heart”, kalimat sakti dari mbak Hannie.
Pada acara kali ini saya mendapatkan hal-hal menarik lainnya. Baru sekarang pula saya mendengar istilah “Food Porn”, awalnya bikin kaget.. tapi ternyata nggak ada hubungannya sama pornografi sama sekali. Di kesempatan ini mbak Hannie kasih bocoran destinasi mana yang oke buat ditulis.Lalu lanjut dengan penayangan video clip hasil arahan sutradara mas Teguh Sudarisman. Video clip yang ‘bercerita’ kemudian menjadi kuis yang memberi kesempatan peserta dapat hadiah keren-keren dari para sponsor.

 

with mbak Hannie yang cantik 🙂

Pembahasan materi travel writing dari mas Teguh masih tetap sama dengan mbak Hannie, yaitu making money from travel writing. Mbak Hannie memaparkan dari sisi media, sedang mas Teguh dari sisi penulis. Mas teguh juga banyak sekali kasih bocoran, tentang langkah-langkah yang harus ditempuh sampai bisa eksis di dunia travel writer. Yang paling asik dan ditunggu-tunggu peserta yaitu, bagaimana cara dapat yang gratis-gratis. Gratis melancong ke berbagai belahan dunia, dari gunung bersalju sampai pantai eksotis, gratis ke bermacam tempat wisata, gratis menginap di resort dan hotel yang menawan di berbagai negara, gratis masuk ke tempat-tempat menarik yang biasanya tidak terbuka secara umum dan gratis-gratis lainnya, gratis ini, gratis itu, pokoknya serba gratisss..tisss!

Making money from your travel writing
peserta beruntung dapat hadiah kuis dari Mas Teguh

Setelah kenyang makan siang soto sulung pilihanku tadi, yang disajikan dengan wadah tradisional tembikar, seminar dilanjutkan dengan pembahasan teknik photography ala traveler. Sebetulnya tidak harus memiliki kamera SLR-DSLR mahal dan canggih, pakai handphone, smartphone dan tablet juga bisa. Asalkan kita dapat sudut yang pas, menarik dan moment-nya tepat.

“Just Go and Shoot.” 

Penerima Doorprize with mbak Hannie

Tak terasa, hari sudah menjelang pukul dua siang, ruangan mulai hangat. Air Conditioning rupanya tak mampu lagi meredam suhu panas dari peserta yang jumlahnya dua kali lipat lebih dari peserta seminar serupa di Bandung. Luapan energy dari penerima doorprize, termasuk dari no 71, nomor keberuntunganku hehe… . Mbak Rika berkata kalau saya Hoki. Masa sih mbak? Kadang saya sering merasa kurang beruntung lho.. tapi kali ini memang saya beruntung dapat doorprize berupa buku-buku yang bisa kupilih sendiri judul yang kuinginkan. Dannn…. saya dapat hadiah dua kali. Plus Goodie bag majalah Pesona dan sekaleng Abon lele kremes.

Sebagai Tweeps yang hobi nge-tweet, saya dapat hadiah karena mytweet di-retweet majalah Pesona @PesonaMag #PesonaMag. Bersama dua Tweeps lainnya, mendapat paket dari Ultima II. Thanks God, saya sukaaaa.. banget sama hadiah keren ini. Satu Pouch putih cantik  Ultima ukuran medium, lengkap dengan isinya, yang cocok banget untuk dibawa travel. Thank you majalah Pesona, thank you mbak Hannie, thank you Ultima, thank you mbak Rika dari Kita kreatif, thank you mas Teguh.  Oh ya ada petuah bagus banget dari mas Teguh, sesepuh penulis pengelana ini, 
“yang sudah pintar menulis belajarlah memotret,
yang sudah pintar memotret belajarlah menulis”

Acara kutinggalkan dengan senyum dan puas hati. Jemputanku sudah menunggu. Saya harus segera lanjut ke kantor karena ada yang harus diurus di kantor Sabtu siang itu. Tak ada waktu lagi menemui pemilik café untuk bertanya tentang sereh dan manis. SereManis café  ini terletak persis di sebelah menara BDN, bekas kantorku dulu, ketika awal tahun 2000-an. Lain waktu saya akan mampir kembali ke sini. Ke wilayah sabang yang penuh kenangan.Yang penasaran ingin tahu detail tentang materi seminarnya, silakan nantikan seminar berikutnya. Semoga bisa menjangkau kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Seminar Travel Writing & Photogarphy di Bandung

 

goodie bags
ternyata banyak yang ku bawa pulang

 

One Response

Add a Comment