LEBIH BULE DARIPADA BULE


            Jadi ingat suatu masa ketika anak pertamaku masih berusia balita. Seringkali Amira kecil kuajak bermain ke arena bermain  di mall terdekat dari kediaman kami. Entah itu bermain mandi bola, main boom-boom car atau permainan ketangkasan yang sebagian besar belum bisa dia mainkan. Bundanya yang bersemangat mengajaknya mencicipi salah satu menu dunia bermain di luar rumah yang sekaligus sarana pembelajaran untuk tumbuh kembangnya.

Mengiringi putri kecilku ini menuai banyak sekali sapaan dari orang tidak dikenal, “Mbak ini indo ya..?” aku tertawa mendengarnya, “Iya mbak, aku indo.., Indonesia”. “Kok anaknya putih banget ya.. kaya bule.. cantik, mbak juga putih banget..,” sekali lagi aku tertawa, memandang si penanya yang sesekali mengamati wajahku.

Aku tersenyum dan terdiam tanpa ingin menjelaskan panjang lebar, lamaa dong kalo aku jelasin.. padahal ngga penting juga. Masa aku harus menjelaskan bahwa aku hobby minum air kelapa ketika mengandung Amira, apa iya itu sebabnya juga.., apakah benar air kelapa membuat bayi terlahir dengan kulit yang bersih.. aku tidak begitu yakin, itu kan hanya kata orang-orang tua dulu. Si mbak itu masih tersenyum sesekali mencuri-curi pandang ke arahku. Mungkin dia sedikit bingung dengan indo yang tidak mancung ini.. hihi.., sedangkan putriku memiliki hidung mancung warisan ayahnya.

Pada suatu acara family gathering kantor, amira berkesempatan bertemu dengan balita hampir sebaya, putra seorang karyawan ekspatriat yang membawa serta keluarganya ke acara tersebut. Ketika baby stroller mereka bersanding, ternyata amira lebih bule daripada bule, haha… 


                               
Ketika usianya belum lagi setahun, kami berjalan-jalan santai di area Taman Mini Indonesia Indah, seorang wanita muda dengan penampilan seperti wartawan atau reporter mengamati kami, memandangi Amira kecil di gendongan ayah. Kemudian perlahan mendekati, “Anaknya ya bu.. cantik sekali..”, aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. “Ikut audisi yuk, untuk iklan susu formula, kebetulan saya seorang pencari bakat,” dia mengeluarkan kartu nama dari dalam tasnya dan memberikannya kepadaku. 

Kupandang sekilas kartu nama itu, ”Agency.. something.. di daerah Kemang Jakarta Selatan,” “Kami sedang mencari bintang iklan untuk produk susu bayi B******”. “Datang ya bu hari kamis jam 5 sore ke kantor kami” lanjutnya. Aku hanya bisa tersenyum, begitupula ayahnya. Bingung tak tahu harus berkata apa.
baby Amira
“Mbak, anakku minum susunya En*****” akhirnya aku merespon semua ucapannya tadi. “Oh ya.. ngga apa-apa, nanti kan kita buatin susunya dengan susu yang dia minum, kita buatkan susu En***** waktu sesi pemotretan” tangannya menari lincah seperti mengaduk2 sendok di gelas. Sekali lagi aku hanya bisa tersenyum dan menjawab “Oke mbak, nanti kita usahakan datang,” agak sungkan untuk menolak dengan tegas apa yang ditawarkannya dengan ramah. Aku juga tidak mungkin menjelaskan apa yang ada dipikiranku bahwa anakku bukan barang komoditi yang nampaknya akan bisa merampas haknya sebagai anak balita. Apabila dia mendapatkan uang dari membintangi sebuah iklan, tentu orang tuanya yang mendapat uang, bukan anaknya. Akhirnya, dia berlalu sambil terus memandangi Amira kecil yang tertawa riang. My little angel murah senyum memamerkan deretan giginya yang belum lengkap plus gusinya. Kami tidak memberikan nomor telepon dan sebagainya. Dan peristiwa itu berlalu begitu saja.

One Response

Add a Comment