Kisah Nyata Mengharukan di Dunia: Bai Fang Li

Ini adalah sebuah kisah nyata mengharukan di dunia tentang Bai Fang Li. Pria yang hidup Cinta Bai Fang Lisebatangkara di China. Foto terakhir yang ditemukan adalah fotonya yang bertuliskan “Sebuah cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”. Ia meninggal di usia 93 tahun masih tanpa sanak saudara. Namun kebaikannya selalu dikenang oleh semua orang, terutama anak-anak yatim piatu yang berada di yayasan atau yang besekolah di daerah Tianjin. Mereka yang secara rutin mendapatkan sumbangan darinya selama hamper 20 tahun kehidupannya sebagai pengayuh becak.

Kisahnya berawal dari bertemunya ia dengan seorang anak kecil yang bekerja membawakan belanjaan ibu-ibu yang sudah berbelanja dengan imbalan uang receh. Anak kecil itu berusia 6 tahun yang akhirnya diketahui bernama Wang Ming. Ia dengan gigih menawarkan jasanya dan tak mengeluh dengan imbalan berapapun yang ia terima dari para pengguna jasanya. Setelah itu ia mengais tong sampah dan mendapati sepotong roti yang sudah kotor. Ia bersihkan roti itu dan masuklah roti itu ke dalam mulutnya.

Karena penasaran Bai Fang Li bertanya pada Wang Ming. Ia tanyakan semua yang ia lihat dengan mata kepalanya itu. Ternyata semua yang ia lakukan itu demi kedua adiknya. Ia bekerja keras karena harus menghidupi kedua adiknya sementara ia sudah tidak lagi memiliki Ibu dan ayah. Orang tuanya itu menjadi pemulung, bekerja dan sudah berbulan-bulan tak kembali. Entah kemana. Akhirnya ia ajak Wang Ming dan kedua adiknya ke sebuah yayasan Yatim Piatu di Tianjin. Ia menitipkan ketiganya dan berjanji bahwa mulai saat itu ia akan menyumbangkan penghasilannya untuk membiayai ketiganya bahkan anak-anak lain di yayasan itu.

Sejak hari itu ia hidup dengan kekurangan. Memilih sebuah gubuk tak layak untuk tempat tinggalnya. Gubuk beralaskan tanah yang ia sewa secara harian. Di sudutnya hanya terdapat sebuah piring yang sudah jelek dan sebuah cangkir yang juga tak layak yang ia gunakan untuk minum. Penerangan hanya dari lampu templok yang terpasang di gubuknya, pun dengan alas tidur yang juga sudah berlubang di sana sini.

Baju yang ia kenakan sama sekali bukan baju yang layak. Jika sudah parah barulah ia menggantinya dengan yang baru yang ia dapatkan dari tempat sampah lalu ia jahit bagian berlubangnya bahkan dengan benang tak sewarna. Namun menurutnya itu sudah cukup layak untuk ia gunakan. Begitupun sepatu butut yang ia kenakan setiap hari untuk mengayuh becaknya.

Sosok kisah nyata mengharukan di dunia

Kisah nyata mengharukan di dunia

 

 

 

 

 

Ia, sosok nyata dalam kisah nyata mengharukan di dunia ini tidak pernah mematok bayaran kepada siapapun  penumpang becaknya. Pun untuk semua bantuan yang ia lakukan pada orang-orang yang meminta bantuannya. Itulah sebabnya pribadinya yang ramah dan ringan tangan ini membuatnya disukai banyak orang. Sehingga selalu saja ada orang yang mengunjungi gubuknya disela waktu istirahatnya. Banyak juga dari mereka yang selalu memberi uang lebih untuk menumpang becak atau untuk bantuan kepada Bai Fang Li. Entah karena rasa iba, kasihan atau apapun, namun semua itu ia sumbangkan untuk membiayai anak-anak yatim dan juga sekolah mereka.

Ia hanya mengambil sedikit untuk makan pagi, siang dan malamnya yang sangat sederhana dan juga untuk membayar sewa gubuknya. Setiap hari ia mengayuh sepedanya hanya untuk mendapatkan uang yang ia sumbangkan untuk anak-anak yatim yang menurutnya lebih membutuhkan uang itu dibandingkan dirinya. Ia rela untuk hidup serba kekurangan asalkan ia dapat menyumbang penghasilannya untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anak yatim di Tianjin.

Hingga ketika usianya 90 tahun ia merasa sudah sangat lelah dan tidak mampu lagi untuk bekerja. Iapun menyumbangkan tabungan terakhir yang ia miliki pada yayasan anak yatim piatu tersebut sebesar RMB 500 atau senilai 650 ribu rupiah. Uang yang selama ini ia simpan dengan rapih dalam sebuah kotak yang ia serahkan pada sekolah Yao Hua seraya berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi sekarang. Saya tidak dapat memberikan sumbangan lagi. Mungkin ini uang terakhir yang dapat saya berikan.” Katanya lirih sambil menyerahkan kotak tabungannya. Hampir semua guru di sekolah itu meneteskan air mata. Terharu dengan kemuliaan hati Bai Fang Li yang menjadi sebuah kisah nyata mengharukan di dunia ini.

Ia wafat di usia 93 tahun dengan mengabdikan 20 tahun masa hidupnya untuk mengayuh becaknya demi anak-anak yatim piatu di Tianjin. Sumbangannya selama itu ternyata mencapai RMB350.000 yang setara dengan 455 juta rupiah. Sementara ia hidup dengan kekurangan demi untuk menyumbang hampir seluruh penghasilannya demi anak-anak yatim piatu yang menurutnya lebih membutuhkan uang itu. Ia rela hidup kekurangan demi kebahagiaan anak-anak yatim piatu yang lebih memerlukan uluran tangannya.

Ah…benar-benar kisah nyata mengharukan di dunia. Apalagi melihat realita hidup yang dapat kita lihat sekarang ini. Mereka yang berkecukupan saja masih terus menerus menumpuk harta kekayaan demi hidup mereka dan kebahagiaan anak cucu mereka. Bahkan dengan cara yang tidak halal mulai dari korupsi hingga menghilangkan nyawa orang lain. Kisah ini benar-benar membuka mata hati kita bahwa masih ada manusia yang dalam kekurangan masih bisa mengulurkan tangan untuk membantu orang lain. Bahkan ia rela hidup kekurangan untuk bias menyumbangkan hampir seluruh penghasilannya untuk orang lain. Mengapa kita tidak bisa?

*****

sumber foto : http://paulocoelhoblog.com/2012/10/29/the-virtuous-mr-bai-fang-li/

2 Comments

Add a Comment