Kisah di Balik Kemolekan Candi Padas

Candi Padas adalah salah satu jenis candi yang terbuat dari batu padas yang dikenal pula dengan batu cadas atau tebing. Itulah sebabnya Candi Padas ini menjadi brand untuk salah satu candi yang terletak di tebing dan menggunakan batu tebing menjadi bahan pembentuk candi. Candi Gunung Kawi adalah salah satu Candi Padas yang cukup terkenal dan masih aktif digunakan di Indonesia hingga saat ini. Kita sebut saja candi ini sebagai Candi Padas. Setuju ya?

Kisah di Balik Kemolekan Candi Padas

Kisah di Balik Kemolekan Candi Padas

Candi Padas terletak di tebing yang berada di tepi Sungai Pakerisan. Tepatnya di Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Untuk sampai lokasi ini Anda bisa melewati jalur yang sama menuju Istana Tampaksiring. Dari Kota Denpasar jaraknya 40Km yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama 1 jam. Dari Gianyar jaraknya hanya 21 Km saja. Jika Anda tidak berkendara, Anda bisa memanfaatkan jasa taksi, bus wisata, atau travel agen Anda untuk mengantar Anda ke lokasi ini.

Arsitektur Candi Padas

Karena candi ini menggunakan bahan alami yang sudah merupakan bagian dari alam itu sendiri, maka kekuatannya bergantung pada kekuatan alam. Itulah yang membuat candi ini masih terlihat utuh hingga saat ini. Tak lekang oleh waktu, hanya di beberapa area memang tampak lumut yang sudah turut serta menjadi bagian dari Candi Padas ini.

Anda akan dibuat takjub dengan arsitektur candinya. Mulai dari Anda menaiki satu demi satu anak tangga yang merupakan hasil pahatan batu padas yang terdapat di tebing pinggir sungai Pakerisan ini. 315 anak tangga siap mengantar Anda menuju Candi Padas yang berada di atasnya. Candi yang dibingkai oleh dinding-dinding batu yang kokoh.

Ada 2 kelompok candi yang dapat Anda lihat. Kedua kelompok candi ini terbelah oleh aliran Sungai Pakerisan yang juga menjadi sebuah sungai yang dikeramatkan. Pada Sebelah Barat Sungai terdapat 4 buah candi yang menghadap ke Timur sementara di sebelah Timur sungai terdapat 5 buah candi yang menghadap ke Barat. Candi yang dilengkapi dengan pemandian dan pancuran air dengan pemandangan yang luar biasa. [Ornamen Candi, Mengenal Berbagai Ornamen Candi yang Unik]

Dua kompleks candi ini dipahat sedemikan rupa hingga membentuk ruang-ruang lengkung yang di bagian dalamnya dapat Anda temukan sebuah candi. Penempatan candi di dalam cekungan yang dipahat ini dilakukan untuk menghindari candi dari ancama Erosi yang mengancam tebing ini.

Pada Candi yang berada di area Barat bahkan memiliki pelataran, ruang-ruang kecil seperti kamar lengkap dengan jendelanya, pun dengan lubang ventilasi yang memadai. Ruangan-ruangan dalam candi inilah yang dulunya seringkali dipergunakan untuk melakukan pertemuan oleh para pendeta atau tokoh kerajaan. Pun untuk meditasi hingga saat ini.

Bagaimana tidak, suasana alam yang tenang dan damai. Gemericik air dan riak air sungai yang tertiup angin, ditambah dengan kicauan burung dan semilir angin yang masuk melalui lubang-lubang ventilasi tentu menenangkan. Untuk mendapatkan perasaan tenang dan damai, terlepas dari apapun tujuan yang ingin mereka dapatkan dari meditasi mereka. [Warna Warni pada Arsitektur Candi di Indonesia]

Sejarah Candi Padas

Candi Padas ditemukan oleh seorang peneliti Belanda pada tahun 1920. Penemuan ini memacu para arkeolog Bali untuk turut serta melakukan penelitian lebih lajut mengenai candi ini. Akhirnya ditemukan sejarah Candi Padas yang dikenal dengan Candi Gunung Kawi ini. Candi Padas dibuat pada masa pemerintahan Anak Wungsu yang tiada lain adalah putra dari Raja Udayana. Seorang Raja yang cukup terkenal dari Bali yang berasal dari Dinasti Marwadewa. Sementara kakaknya Anak Airlangga menikah dengan seorang Putri dari Jawa Timur dan menjadi Raja di sana.

Pembuatannya dilakukan sekitar abad ke-11 masehi. Buktinya dapat kita lihat dari tulisan yang berada di atas pintu semu yang dibuat dengan huruf Kediri yang bunyinya “Haji Lumah Ing Jalu” artinya “Sang Raja yang disemayamkan di Jalu”. Raja yang dimaksud tentunya Raja Udayana sementara kata “Jalu” adalah sebutan untuk senjata yang dimiliki oleh ayam jantan. “Jalu” jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Sunda berarti Jantan.

Dari kata-kata itulah muncul pula istilah “Pakerisan” yang mengacu pada “Keris” sebagai senjata. Nama yang diabadikan menjadi nama sungai yang membelah Candi Padas ini menjadi dua bagian tebing candi. Sungai yang dikeramatkan yang juga menjadi air suci bagi para penduduk setempat yang menganut agama Hindu hingga saat ini.

Mitos Di Balik Candi Padas

Jika Anda pernah mendengar sebuah mitos mengenai Kebo Iwa maka Candi Padas ini disebut-sebut sebagai salah satu karyanya. Mitos ini berasal dari cerita Rakyat Bali yang hingga kini masih sering diceritakan. Tokoh Kebo Iwa ini konon memiliki postur tubuh yang sangat besar. Dengan kesaktian yang ia miliki ia menatahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding-dinding batu padas yang terdapat di Tukad Pakerisan ini.

Hasilnya menjadi pahatan dinding batu padas yang indah dan halus. Pun dengan detilnya yang sangat bagus. Dengan Kesaktiannya ia tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk memahat dinding batu padas ini. Dalam sehari semalam ia berhasil menyelesaikan mahakaryanya yang kini dapat kita lihat pada Candi Padas ini. Percaya atau tidak, semua kembali pada diri Anda sendiri. Pastinya Candi Padas ini adalah salah satu candi yang wajib Anda kunjungi jika Anda berkunjung ke Bali.***

Add a Comment