Duit Ada Dimana-mana

Aku kadang heran

Melihat isi dunia nyata dan dunia maya ini. Rupiah, Dollar bertebaran dimana-mana. Kita tinggal mungut. Duit ada dimana-mana. Tapi, mengapa masih ada yang bingung “keluargaku bisa makan apa nggak..?
 
Ibarat masuk ke area kebun yang sangat luas. Buah-buahan tumbuh dimana-mana dan bisa dipetik sesuka hati. Ketika melangkahkan kaki pertama kali menelusuri pohon demi pohon, “buah apa yang akan kita petik?” yang sesuai selera? yang enak? yang manis asam asin? yang gampang dijual? yang gampang dibawa? yang gampang metiknya? semua itu pilihan.
 
Berjalan pelan ke dalam kebun, nemu pohon salak berbuah banyak. Tapi sulit diambil, takut ketusuk tajam-tajamnya itu lho.., trus gak doyan salak.. rada sepet. Oke lanjut.. nemu tanaman labu parang besar-besar buahnya. Lewatin aja.. nggak menarik.
 
Berjalan lebih ke dalam, masih belum nemu pohon yang sesuai padahal kaki sudah letih, otak juga letih berputar terus memikirkan segala pertimbangan tadi. Nah.. Pohon Duren, so yummm.. tapi nggak berani dekat-dekat ah.. kalo itu duren ranum tiba-tiba jatoh nimpa kepala, bisa masuk UGD. 
 
Duit adalah segala-galanyaBerpeluh, akhirnya terduduk di bawah pohon akasia. Tak ada buah, tapi lumayan angin sepoi-sepoi. Datang Badu sahabatku dulu, mengejutkan. Dengan keranjang besar kosong dan karung besar. “Hai.., bro, ayo ikut aku, ada pohon apel lengkeng berbuah banyak sekali. Posisi dekat jalan keluar” aku tersenyum memperhatikannya, belum beranjak. Masih capek.. “ayolah bantu aku petik apel itu, ukurannya kecil, mudah membawanya, di pasar mahal harganya. kita bisa untung banyak, dan kita bisa bawa pulang cukup banyak untuk anak kita” Tanpa banyak mikir lagi, aku mengikutinya dengan riang. Rejeki, sahabatku memang baik dan menguntungkan.
 
Pohon apel ini rendah, tidak perlu dipanjat, aku tak bisa memanjat dan takut ketinggian. Gairah meletup memetik buah ini. Kenapa tidak dari tadi ya.., sayang juga aku tidak punya karung dan keranjang. Kalau punya, bisa lebih banyak yang bisa dibawa. Aku memetik, badu mengumpulkan. Keranjang telah penuh, dan karung hampir penuh. Aku sekarang berada di pohon terjauh, memetik sisa-sisa apel di pohon itu. Ketika berjalan kembali, Badu sudah hilang dengan karung dan keranjangnya. Aku hanya bisa menatap jejak kakinya terpantul sinar matahari. Memasukan 3 buah apel ke saku dan memakan sisanya, karena sudah lapar.
 
Kembali berjalan masuk, menghilangkan kesal dan marah kepada Badu keparat itu. Langkah sudah terasa berat. Tanpa bekal, hanya 3 butir apel tadi. Tak ada karung, keranjang, golok, parang, pisau, galah atau apapun. Hanya niat tanggung jawab mencari makan untuk keluarga. Sekarang aku harus fokus, pohon mana yang akan kupetik buahnya untuk aku bawa. Mangga mungkin.. yaa.. mangga, buahnya biasanya  banyak banget, ranum harum, manis berair. Semangat lagi.. ayo cari pohon mangga…
 
Diperjalanan, tiba-tiba terdengar deru mesin. Tak lama muncul truk kecil di depanku, menderu perlahan dari arah dalam kebun, membawa buah naga  penuh menjejali bak truk. Tak disangka.., itu abangku si Pardi. Menghentikan truk, berteriak menyapaku. “Hai.. dek.. ada disini? lagi ngapain..? pa kabar dek?” belum selesai dengan jawabanku, dia telah menghidupkan mesin dan menyodorkan sekeresek buah naga dari jendela truknya. “Nih buatmu, ini sisa yang sedikit rusak, dijual juga nggak laku, lumayan buat dimakan” sambil berlalu secepat tornado.
 
Melongo…., bengong, takjub. Ya, cuma itu. Menelan liurku sendiri juga sulit. Ah… persetan, ayo lanjut…, tapi.. darimana dia bisa dapat truk? kenapa dia bisa punya truk sedang aku tidak?. Mangga… oh ya mangga yang jadi fokus. Tengok kiri kanan cari barisan pohon mangga. Tapi.. kenapa Tuhan tidak adil, si Pardi dapat truk aku tidak?? 
 
Jeruk bali, besar sekali.  Pepaya bangkok, besar lembek dan cepat busuk.  Alpukat, rambutan…. nahhh..itu pohon mangga.  Aku tengadah menatap rimbunnya daun dan buah saling berdesakan. Mangga gedong berbuah oranye berukuran sedang. Masuk banyak dalam kresek. Aku bisa melepas baju dan menjadikannya buntalan untuk mangga-mangga ini. Kudekati barisan pohon setinggi 5 meter itu. Lalu terperangah tersadar. Aku tidak bisa manjat, tidak ada tangga dan nggak punya galah. 
 
Lelahhh.., lelah berjalan.. lelah berpikir. Duduk termenung bersandar di batang pohon. Berpikir sedih.. “Mau Makan Apa Keluargaku Nanti??”

*ditulis dengan kata-kata tidak berdasar EYD dan KBBI, hanya berdasar gayaku dan pikiranku sendiri 😉

Add a Comment