Candi Sewu Bukti Bersatunya Hindu-Budha

Candi Sewu

Candi Sewu -foto from wikipedia

 

Candi Sewu hanya berjarak 800 meter saja dengan Candi Prambanan. Itulah sebabnya lokasinya masih termasuk dalam tujuan wisata Candi Prambanan. Tiket masuk ke Candi Prambanannya saja sudah cukup untuk mengantar Anda ke Candi ini. Anda bisa menggunakan kuda sewaan atau berjalan kaki sambil menikmati pemandangan sekitar yang asri. Menikmati hari yang cerah dan hembusan angin serta rimbunnya pepohonan yang berada di sekeliling candi.

Gempa bumi yang sempat melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006 membuat kerusakan parah pada Candi Sewu ini. Terutama pada struktur bangunan candi. Ini membuat pengelola sempat memasang kerangka besi di keempat sudut bangunan candi agar bangunan candi tidak sampai ambruk. Akhinya pemugaran kembali dilakukan hingga saat ini Anda bisa mengunjungi candi utama dan melihat Candi Sewu serta berbagai ornamennya dari dekat.

Lokasi Candi Sewu

Walaupun namanya Candi Sewu yang artinya Seribu Candi, pada kenyataannya hanya memiliki 249 candi saja.. Candi-candi tersebut menyebar dengan lokasi beraturan hingga memudahkan kita untuk menentukan fungsi dari candi-candi tersebut. Penamaan ini juga didasari oleh kisah legenda yang berkembang di masyarakat tentang Loro Jonggrang

Jika dilihat dari lokasinya maka salah satu Candi Budha yang lebih tua dari Borobudur ini secara administratif berada di lokasi yang sama dengan candi Prambanan. Tepatnya di Dukuh Bener, Desa Bugisan yang masuk ke kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Penyebaran candi di area yang cukup luas ini membuat para ahli sejarahwan berpendapat bahwa Candi Sewu bukan hanya sekadar tempat peribadatan, tapi juga sebuah kerajaan Budha.

Sejarah Candi Sewu

Dari angka 782 tahun yang tertera pada prasasti Kelurak maka terungkaplah sejarah mengenai Candi Sewu ini. Disusul tahun 1960 dengan penemuan Prasasti Manjusrigrha yang terdapat pahatan angka 792. Dari kedua prasasti ini maka dapat diketahui bahwa Candi Sewu memiliki nawa asli “Prasada Vajrajasana Manjusrgrha”.

“Prasada” berarti candi atau kuil, “Vajrajasana“ berarti intan atau halilintar yang bertahta, sedangkan “Manjusrigrha” artinya Rumah Manjusri. Beliau tiada lain adalah seorang Boddhisatwa yang terdapat dalam ajaran Budha. Selain itu, fakta yang lain yaitu mengenai perkiraan pendirian candi yaitu abad ke-8 Masehi, tepat di akhir pemerintahan Rakai Panangkaran. Seorang raja yang termasyur dari Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Utama

Candi utama berada tepat di tengah-tengah candi lainnya. Memiliki ukuran paling besar dengan berstruktur bangunan termegah dibandingkan candi lainnya. Jika dilihat dari atas candi utama pada Komplek Candi Sewu ini memiliki denah lokasi yang menyerupai poligon dengan sudut 20°. Menyilang seperti sebuah salib dengan diameter 29 meter sedangkan tingginya bangunannya mencapai 30meter.

Candi yang awalanya hanya akan dibuat satu ruang saja akhirnya menjadi 5 ruang karena adanya penghubung antara candi utama dengan keempat candi yang berada di empat arah mata angin ini. Penghubungnya yaitu galeri sudut yang dipagari langkan. Namun tentu ruangan utama jauh lebih besar dibanding 4 ruang lainnya. Pun dengan atap yang lebih tinggi hingga tetap menjadi pusat bangunan utama Candi Sewu ini.

Pada setiap ruangan diperkirakan terdapat Arca Bodhisatwa Manjusri atau Buddha yang memiliki tinggi hingga 4 meter yang terbuat dari bahan perunggu. Harga jual dari benda kuno berbahan perunggu ini membuat wujudnya tidak ditemukan lagi saat ini. Sebuah bukti ketamakan manusia yang juga sudah ada sejak jaman dahulu kala.

Candi Pelengkap

Pada masa Rakai Pikatan candi ini kemungkinan besar mengalami pemugaranan perluasan. Rakai Pikatan adalah seorang pangeran dari Dinasti Sanjaya yang menikahi Puri Pramodhawardhani dari Dinasti saylendra. Menjadi pemersatu dua kerajaan besar di Jawa Tengah bagian Utara dan Selatan. Menjadi bukti bahwa sejak jaman dahulu bangsa kita telah mengenal toleransi antar umat beragama. Sehingga ketika Rakai Pikatan berkuasapun rakyatnya tidak harus untuk turut menganut agama rajanya.

Setelah pemugaran dan perluasan tersebut maka seperti saat inilah perkiraan tata letak dan struktur banguna Candi Sewu. Pada lahan seluas 185 meter yang membentang dari utara ke selatan ini dan 165 meter dari arah timur ke barat berdiri 249 candi. Tata letak candi membentuk Mandala Wajradhatu. Sebuah bentuk perwujudan alam semesta yang tersurat dalam kosmologi Buddha Mahayana.

Candi utama berada pada porosnya sebagai candi terbesar dengan jarak 200 meter keempat arah mata angin. Ke arah Barat, Timur, Utara, dan Selatan. Setelah Candi utama ke arah luar terdapat 8 buah Candi Penjuru yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan Candi Utama. Seharusnya di setiap arah penjuru mata angin terdapat sepasang candi penjuru yang saling berhadapan. Sayangnya saat ini kita hanya dapat melihat Candi Penjuru kembar timur dan satu buah candi penjuru yang berada di sebelah utara saja.

Lapisan berikutnya yaitu candi Perwara atau pengawal. Ukurannya paling kecil diantara candi lainnya yang terdiri dari 240 buah candi dengan struktur bangunan yang hampir sama satu dengan yang lainnya. Semuanya disusun menjadi 4 baris yang konsentris mulai dari baris pertama dari arah dalam sebanya 28 candi, baris ke-2 berjumlah 44 candi dengan jarak yang sama antara satu candi dengan yang lainnya.

Dua baris terluar yaitu baris ke-3 dan ke-4 terdiri dari 80 candi dan 88 buah candi-candi kecil yang disusun dengan jarak yang berdekatan satu sama lain. Pada candi-candi ini terdapat Arca Dhyani Budha yang mirip dengan yang ada dalam stupa candi Borobudur. Tepat di balik barisan ke 4 candi-candi kecil ini terdapat sebuah pelataran yang beralas batu yang ditengahnya terlihat candi utama yang berdiri tegak di Kawasan Candi Sewu ini.***




            										

2 Comments

Add a Comment