Candi Penataran yang Tetap Cantik di Masa Tuanya

Jika Anda sedang berkunjung ke kota Blitar Jawa Timur, tak ada salahnya untuk mencoba menjelajah Candi Penataran. Untuk para ahli sejarah dan ilmuan yang meneliti mengenai percandian justru mengenal candi ini dengan sebutan Candi Palah yang mereka anggap sebagai nama yang sesungguhnya dari candi ini. Sebagai salah satu peninggalan Candi Hindu yang yang terluas dan tertua di Jawa Timur.

Tak sulit menemukan Candi Penataran ini. Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Lokasinya yang berada sebelah Barat Daya kaki Gunung Kelud membuat komplek percandian ini memiliki udara yang sangat bersahabat. Pemandangan yang asri dan candi-candi yang tersebar dan tertata rapi tentu membuat Anda betah berlama-lama di sini.

Sejarah Candi Penataran

Nama Palah yang lebih dikenal oleh para sejarahwan atau arkeolog ternyata berasal dari Prasasti Palah yang ditemukan di dekat lokasi candi. Sebuah prasasti yang menceritakan begitu banyak misteri yang tersimpan di balik candi ini. Terutama mengenai sejarahnya dari generasi ke generasi. Tentu karena Candi ini memang melewati beberapa jaman kerajaan yang berjaya di masanya.

Itulah sebabnya pembangunan candi ini sudah melewati banyak peristiwa penting dalam sejarah. Mulai dari masa kejayaan Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari hingga Kerajaan Majapahit. Selama 250 tahun itu pula Candi Penataran ini mengalami beberapa kali pembangunan. Maka sangat wajar jika batu andesit, arca maupun ornamen candi lain yang menjadi bagian dari candi masih terlihat baik.

Sir Thomas Stamford adalah salah seorang yang berjasa meneukan reruntuhan Candi ini di tahun 1815. Walaupun sejak peristiwa tersebut juga tidak membuat Candi Penataran ini populer. Justru pada tahun 1850 barulah eksistensi candi ini mulai terlihat. Denga lebih dikenalnya Candi Hindu tertua di Jawa Timur ini. Keberadaan Prasasati Palah memudahkan proses pencarian dan pemugaran Candi.

Tujuan Pembangunan Candi Penataran

Menurut Prasasti Palah tujuan dibangunnya Candi Penataran ini tiada lain sebagai bentuk rasa syukur umat Hindu akan tetap kokohnya Gunung Kelud. Gunung berapi yang nyaris tidak pernah memberi bencana yang berarti bagi masyarakat sekitar pada waktu itu. Selain itu dipergunakan pula untuk berbagai aktivitas peribadatan termasuk menjadi tempat perabuan.

Dua orang raja dari generasi yang berbeda diduga abunya tersimpan di bagian Candi Penataran ini. Kedua raja tersebut diantara lain adalah Ken Arok. Seorang Raja yang mendapat gelar Girindra atau Penguasa Gunung yang terdapat dalam Negarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca. Ken Arok bernama asli Raja Rajasa yang merupakan pendiri Kerajaan Singasari. Satu raja lainnya yaitu Raja Kertajasa Jayawardhana yang dikenal dengan nama Raden Wijaya. Beliau tiada lain adalah Raja sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit.

Berbagai upacara keagamaan termasuk sembahyang dan pemberian sesajen sebagai bentuk rasa syukur juga dilaksanakan di Candi Penataran ini. Itulah sebabnya jika dlihat dari peruntukan setiap bangunan candi, candi ini termasuk candi yang cukup lengkap sebagai sebuah sarana peribadatan umat Hindu di masa itu. Tata letaknya dibuat sedemikian rupa hingga dapat difungsikan sebagaimana mestinya.

Candi Penataran yang Tetap Cantik di Masa Tuanya

Arsitektur Candi Penataran

  • Halaman Depan Candi Penataran

Di halaman depan Candi ini terdapat beberapa bagian bangunan yaitu Bale Agung, Pendopo Teras, dan Candi Angka Tahun. Bale Agung adalah bangunan terdepan Candi yang akan menyambut kedatangan Anda di Candi Penataran ini setelah sepasang Arca Dwarapala berukuran besar. Bangunannya tidak terlalu besar hanya 37 m x 18,84 m dengan ketinggian 1,44m saja. Dulunya bangunan ini sering digunakan untuk bermusyawarah.

Pada pendopo teras terdapat sebuah meja yang memang diperuntukan untuk meletakan berbagai sesaji yang akan dipersembahkan pada Dewa. Ukurannya lebih kecil dari Bale Agung yaitu 29,05 m x 9,22 m dengan tinggi 1,5 m. Terakhir yaitu Candi Angka Tahun yang dikenal sebagai Candi Bawijaya yang bertahun 1369 Masehi. Pada bangunan kecil ini terdapat sebuah Arca ganesha, keturunan Dewa Syiwa yang disimbolkan memiliki kepala berbentuk Gajah dengan badan berbentuk manusia.

  • Halaman Tengah Candi Penataran

Arca Dwarapala berukuran sedang akan menyambut Anda di bagian tengah komplek percandian Penataran ini. Di sini Anda dapat menemukan Candi naga dan sebuah pondasi berbahan batu. Pada Candi Naga Anda hanya dapat menemukan bagian kaki dan tubuh Candi, tidak dengan atapnya. Sementara itu di bagian tengah daerah ini terdapat pondasi berbahan batu bata yang berada si Bagian Timur Candi.

  • Halaman Belakang Candi Penataran

Bagian belakang inilah bagian yang dianggap paling sakral diantara semua bagian Candi Penataran. Walaupun hanya memilii 2 bagian saja yang utuh di area Belakang ini keduanya memiliki nilai sejarah yang tinggi. Terutama dalam mengungkap sejarah candi ini. Dua bangunan tersebut adalah Candi Utama dan Prasasti Palah. Pada keduanya terdapat tanggal yang berarti banyak dalam mengungkap banyak hal dari Candi ini.

Pada Candi Induk yang berketinggian 7,19 meter memiliki 3 teras dengan tanga yang dilegkapi patung Mahakala dengan tahun 1347 di setiap sisinya. Pada dindingnya Anda bisa melihat relief mengenai kisah Ramayana. Jika Anda melhat 2 buah sis bangnan yang berada di sisi Barat Daya berarti Anda sedang melihat Bathara kecil dan sisa bangunan berpondasi batu bata.

Dekat aliran sungai Anda juga bisa melihat kolam berangka 1415 Masehi. Prasasti Palah sendiri berada di sebelah Selatan candi Utama. Jika dilihat secara keseluruhan tata letak Candi terlihat rapi. Begitupun rumput dan pepohonan. Menandakan bahwa Candi Penataran dikelola dengan baik. Sehingga tidak hanya menjadi salah satu bukti sejarah peninggalan raja-raja tapi juga tempat wisata yang indah dan menarik.****

menulis dengan cinta - Lisa Gopar

2 Comments

Add a Comment