Candi Pawon yang Bersinar

Jika Anda pernah mendengar mengenai 3 Candi yang berjejer maka Candi Pawon adalah salah satu diantaranya. Candi lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Ketiga candi ini berada pada satu garis lurus dan Candi Pawon adalah candi yang berada antara Candi Borobudur dan Candi Mendut. Jika dari Candi Borobudur jaraknya sampai 2 km sedangkan ke Candi Mendut hanya 1 Km saja.

Candi ini dikenal juga dengan nama Candi Brajanalan. Salah satu candi yang bercorak Budha yang juga merupakan warisan budaya dari dinasti Saylendra. Salah satu dinasti terbesar di Jawa Tengah yang memeluk agama Budha. Candi ini juga didirikan untuk keperluan keagamaan sebagai bentuk wujud pengabdian mereka kepada Sang Pencipta.

Peruntukan Candi Pawon ini jika melihat dari namanya yang berarti Dapur sedangkan kata “Pawon” adalah turunan kata dari perabuan. maka diperkirakan bahwa Candi Pawon ini dibuat untuk penyimpanan abu jenazah. Jenazah yang dimaksud salah satunya yaitu abu jenazah milik Raja Indera. Seorang Raja dari Dinasti Saylendra yang tiada lain adalah ayah dari Raja Samaratungga.

Lokasi Candi Pawon

Lokasi Candi Pawon secara administratif masih termasuk Desa Borobudur, tempat dimana Candi Borobudur berdiri. Begitupun Kecamatannya yang termasuk ke dalam Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sedangkan secara geografis terletak pada koordinat 7.60616° Lintang Selatan dan 110.219522°Bujur Timur.

Dari Candi Mendut jaraknya 1 Km ke Arah Tenggara sedangkan dari Candi Borobudur jaraknya 2 Km ke Arah Timur Laut. Dengan begitu Candi Pawon berada diantara kedua Candi Budha yang lain. Selain berada pada satu garis, kemiripan pahatan dan bentuk bangunan membuat seorang ahli sejarahwan yaitu Poerbatjaraka berpendapat bahwa ketiga candi ini memiliki keterkaitan khusus. Tidak hanya sejarahnya tapi juga pemilihan lokasinya. Ia juga berpendapat bahwa Candi Pawon bahkan merupakan bagian dari Candi Borobudur yang disebut dengan istilah “Upa Angga”

Sejarah Candi Pawon

Berdasarkan nama dari Candi Pawon ini, maka dugaan kuat para sejarahwan bahwa candi ini dibuat khusus sebagai bentuk penghormatan untuk Raja Indera. Arca Bodhisatwa merupakan simbol dari Raja Indera yang kehidupannya dianggap sudah sampai pada tingkatan Bodhisatwa. Ia tiada lain adalah seorang raja dari Dinasti Saylendra yang berkuasa dari tahun 782 hingga 812 Masehi

Itulah sebabnya para ahli berpendapat bahwa Candi Pawon ini berumur lebih tua dibandingkan 2 candi lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur yang sama-sama merupakan hasil peninggalan Dinasti Saylendra. Namun pembuatnya berasal dari generasi yang tidak jauh berbeda hingga hasil pahatan batu dan bentuk bangunan candi secara keseluruhan terdapat kemiripan satu sama lain.

Pada Prasasti Karang Tengah disebutkan bahwa pada arca tersebut keluar seberkas sinar yang disebut “Wajra”. Ini memunculkan dugaan bahwa arca tersebut dibuat dari perunggu. Candi ini disebut Candi Pawon yang Bersinar. Sayangnya kini arca tersebut tidak dapat dilihat lagi di bagian dalam tubuh Candi Pawon. Sehingga kita tidak dapat melihat benar atau tidaknya sinar yang muncul tersebut.

Candi Pawon yang Bersinar

Arsitektur Candi Pawon

Pada pintu masuk candi yang terletak di sebelah Barat memiliki ukuran yang cukup besar. Pada bagian atas pintu masuk ini Anda dapat menemuan sebuah relief Kalamakara. Tidak hanya itu pada bagian pangkal tangga menuju selasar candi juga terdapat sepasang patung naga. Selasar candi dikenal pula dengan istilah batur candi. Diperkirakan memiliki ketinggian hingga 1,5 meter. Bentuk dasarnya berbentuk persegi lengkap dengan liku pada setiap sudutnya. Dinsingnya penuh dengan berbagai relief dengan detil yang terlihat jelas karena setiap kisah berada dalam fanel yang berbeda-beda.

Pada dinding sisi Utara dan Selatan terdapat sebuah ceruk yang di dalamnya dihiasi relief Kuwera yang banyak dipuja umat Budha sebaga Dewa kekayaan. Selain itu pada ceruk lain terdapat relief Kinara dan Kinari. Dua pasang burung berkepala manusia mengapit sebuah pohon Kalpataru. Menggambarkan keduanya sedang menjaga pohon Kalpataru tersebut.

Di bagian dalam candi terdapat sebuah ruangan. Di ruangan inilah seharusnya sebuah arca yang terbuat dari perunggu berada. Menjadi simbol Arwah Raja Indera yang sudah sampai pada tahap Bodhisatwa. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah keterangan yang terdapat pada prasasti Karang Tengah mengenai ‘Vajra”. Penamaan masyarakat setempat akan Candi ini yaitu “Bajranalan” juga memperkuat kemungkinan tersebut. Penamaan ini berasal dari dua kata yaitu “Vajra” dan “Anala”. Dua kata ini berasal dari bahasa Sansakerta yangberarti “Sinar” atau “petir” dan “Api”. Karena itu juga mungkin Candi ini disebut Candi Pawon yang Bersinar.

Bagian terakhir yang tak kalah menarik dari Candi Pawon ini adalah bentuk dari atap candi. Pada bagian atap candi terdapat sebuah stupa dengan ukuran besar yang dikenal pula dengan istilah Dagoba besar. Dagoba besar ini dikelilingi pula oleh 4 buah dagoba yang berukuran kecil pada keempat sisi yang bebeda. Melengkapi Candi Pawon sebagai salah satu candi yang peninggalan masyarakat Budha ini hingga membuatnya terlihat megah.***

Add a Comment