Candi Ngawen Mirip Candi Hindu

Masih menjelajah Magelang dengan puluhan candinya. Kali ini kita akan menjelajah Candi Ngawen. Candi Ngawen Mirip Candi Hindu. Walaupun tidak setenar candi lainnya di Magelang, Candi Ngawen masih layak unuk dikunjungi untuk memperkaya pengetahuan kita akan candi-candi di Indonesia. Belajar sejarah dengan melihat wujud aslinya melalui jelajah candi. Melihat dari dekat dan mencoba menterjemahkannya sendiri.

Lokasi Candi Ngawen

Candi ini berada di Desa Gunungping, Dusun Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Tak sulit menemukan Candi Ngawen ini karena lokasinya yang tidak jauh dari Pasar Muntilan. Jika Anda sudah menemukan Jl.Muntilan maka tak sampai 1 Km lagi dengan perjalanan ke arah Selatan Anda sudah bisa menemukan salah satu candi Budha ini.

Rute yang paling mudah diambil adalah mencari Kota Muntilan. Anda bisa melalui jalan SMPN 1 yang letaknya tepat setelah Jembatan Sungai Blongkeng dari arah Yogyakarta. Selanjutnya berbelok ke kiri menuju Candi Ngawen. Dengan menempuh perjalanan 2,5 Km Anda akan sampai di Dusun Ngawen, Desa Gunungping.

Anda juga bisa melalui pusat Kota Muntilan yaitu Tugu Besi. Dari arah Yogyakarta setelah sampai Tugu Besi ini Anda cukup berbelok ke kiri. Selanjutnya Anda dapat menemukan Dusun Ngawen yang jaraknya diperkirakan sekitar 2,5 Km. Sampai di Desa Ngawen Anda cukup meneruskan perjalanan ke bagian Timur Dusun Ngawen hingga sampai di lokasi candi yang Anda cari.

Arsitektur Candi Ngawen

Jika kita amati sekilas maka yang terlintas di benak pastilah Candi Ngawen ini termasuk Candi Hindu. Terutama dari bentuknya yang meruncing. Padahal, setelah dilihat lebih dekat Anda akan berubah pikiran karena ciri Candi Budha mulai terlihat sedikit demi sedikit. Dari bentuk candi yang berundak-undak hingga ornamen stupa serta arca Budha. Hingga akhirnya Anda mulai merasa bahwa Candi Ngawen ini memang salah satu Candi Budha yang juga memiliki ciri khas yang serupa dengan Candi Budha lainnya yang berada di Indonesia.

Candi Ngawen merupakan kompleks candi yang memiliki lebih dari 1 buah candi. Terdiri dari satu candi utama dan 4 buah candi pengapit yang bangunannya tidak nampak seperti sebuah candi karena masih dalam proses pemugaran. Tentu kendalanya bebatuan atau banyak ornamen candi yang hilang. Entah itu karena alam atau karena ulah manusianya. Hingga yang dapat kita lihat dengan utuh hanyalah candi utamanya saja, sementara yang lainnya masih berupa pondasi atau reruntuhan bebatuan Andesit.

Jika dilihat dari arsitektur candi yang terlihat jelas yaitu adanya kemiripan bentuk bangunan dengan Candi Mendut yang lokasinya memang tak jauh dari Candi Ngawen ini. Candi yang berdiri di atas tanah seluas 3.556 m² ini di setiap sudut candinya, baik candi utama maupun pengapit terdapat patung singa sebagai simbol penjaga candi. Patung ini dipercaya sebagai arca yang menjaga candi dan vihara Pangeran Sidharta yang sedang dalam penantian menuju nirwana.

Makna Pada Ornamen Candi

Tidak lengkap rasanya jika menjelajah candi tanpa melihat detil-detil ornamen yang terdapat pada Candi Ngawen ini. Terutama relief yang memang masih dapat terlihat dengan jelas. Mulai dari relief Kinara dan Kinari sebagai burung penghibur para dewa di Khayangan, Kalamakara yang tiada lain adalah Dewa waktu dan Ghyani Budha Ratnasambhawa lengkap dengan sikap tangannya.

Semua itu bisa mengajari kita banyak hal terutama tentang kehidupan. Dalam hal ini bagaimana umat Budha memandang hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang ingin dicapai dari kehidupan ini. Tidak hanya bahagia di dunia tapi juga di nirwana. Semuanya berada dalam satu rangkaian kehiduapan yang dibagi berdasarkan waktu. Mulai kelahiran mausia di dunia, menjalani kehidupan sebagai manusia serta rangkaian kebaikan yang harus dilakukan hingga dapat menggapai nirwana yang tak lepas dari berkah yang diberikan Sang Budha.

Sejarah Penemuan Candi Ngawen

N.W. Hoepermans adalah orang yang pertama kali menemukan Candi Ngawen ini. Pada tahun 1864 onggokan arca Budha menarik perhatiannya dan membuatnya menduga bahwa pastilah ada sesuatu yang lain yang tersembunyi di bawah sebuah bukit yang ketingiannya mencapai 2-3 meter ini. Selanjutnya barulah para arkeolog sebangsanya yaitu Belanda mulai melakukan penggalian pada tahun 1899.

Tidak hanya Van Erp, tapi juga Brandes dan Vink yang turun tangan dalam proses penggalian dari reruntuhan Candi Ngawen ini. Hasil temua Van Erp dengan mengkaji struktur bangunan yang ditemukan maka ia menduga bahwa Candi Ngawen ini kemungkinan besar hancur akibat terjadinya letusan Gunung Merapi. Itulah sebabnya candi ini tertimbun di awah pasir setebal 2 Meter. Tak jauh berbeda dengan Candi Borobudur yang mengalami hal serupa.

Selanjutnya proses penemuan Candi Ngawen ini dilanjutkan dengan pengeringan sawah yang berada di sekitar bukit tempat ditemukannya Arca candi tersebut. Pada tahun 1920 proses ekskapasi secara resmi dimulai. Restorasi dumulai dari Candi utama terutama di bagian Utara. Walaupun masih tanpa atap bangunan candi sudah terbentuk. Karena ternyata tidak sedikit bebatuan candi yang mengalami kerusakan parah dan harus dibuat ulang dengan campuran semen dan batu kali.

Barulah pada tahun 1925 PJ Perqui turun tangan dalam meneliti Candi Ngawen ini. Usahanya tak sia-sia, ia berhasil mengembalikan wujud Candi Utama hingga Candi utama terlihat lebih sempurna. Hingga tahun 1927 ia menyatakan secara resmi bahwa proses restorasi selesai. Candi Ngawen yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atau 9 Masehi ini mulai saat itu memiliki bentuk yang dapat kita lihat sekarang.***

One Response

Add a Comment