Kisah Pengorbanan yang Mengharu Biru di Candi Kidal

Kisah Pengorbanan yang Mengharu Biru di Candi Kidal. Tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke kota Malang tidak menyambangi Candi Kidal. Sebuah candi peninggalan kerajaan Singasari yang berada di Desa Rejokidal. Walaupun bukan candi yang berukuran besar namun tidak sedikit orang yang tertarik untuk menyambangi lokasi candi ini. Selalu ada saja yang penasaran ingin melihat candi ini dari dekat. Tidak hanya untuk berwisata budaya melainkan juga karena tertarik dengan cerita di balik relief-relief yang memiliki makna mendalam di sini.

Selain itu, lokasinya yang nyaman dan tenang serta suasana alam yang asri menambah kenyamana dalam kunjungan wisata ke Candi Kidal ini. Bahkan saat musim penghujan tiba Anda tidak perlu takut harus becek-becekan pada tanah berlumpur karena fasilitas yang ada di Candi Kidal ini sudah lebih dari cukup untuk kenyamanan Anda berwisata menjelajahinya.

Mengapa Kidal?

Anda tentu penasaran mengapa nama candi ini “Kidal”. Ya, kidal adalah sebutan bagi seseorang yang menggunakan tangan kirinya sebagai tangan utama dibandingkan tangan kananya. Konon penamaan ini karena keunikan pemasangan relief di Candi Kidal ini. Relief yang berisi rangkaian kejadian dari suatu kisah yang biasa dibaca searah jarum jam justru dibaca sebaliknya yaitu berlawanan jarum jam.

Teknik ini dikenal pula dengan sebutan Prasawiya yaitu teknik membaca ke arah berlawanan jarum jam. Cara ini akan membantu Anda untuk membaca rangakain kisah demi kisah yang dipahatkan pada sekeliling dinding Candi Kidal ini. Kisah seekor garuda yang menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang ternyata memiliki makna yang sangat dalam bagi Anusapati hingga mengamanatkan pembuatan Relief ini pada tempat pendermaannya.

Lokasi Candi Kidal

Ketidak populeran Candi Kidal ini membuat lokasinya juga tidak banyak diketahui orang. Tapi jika Anda sudah terlanjur datang untuk menyambanginya tak perlu risau karena kami akan membantu menemukannya. Anda cukup mencari Kecamatan Tumpang, Desa Rejokidal yang termasuk Kabupaten Malang. Jika Anda memulai perjalanan dari pusat Kota Malang Anda tinggal mengambil arah Timur. Jaraknya sekitar 20 Km ke arah Timur dari Kota Malang.

Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi tentu lebih mudah untuk menemukan daerah Tumpang ini. Dari Tumpang Anda akan mendapatkan petunjuk jalan menuju Candi Kidal ini. Untuk yang berkendaraan umum Anda harus menguras kocek sedikit lebih banyak karena harus memborong kendaraan tersebut untuk mengantar Anda masuk ke kawasan candi yang dibuka mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore ini.

Arsitektur Candi Kidal

Candi Kidal memiliki luas 35m². Dari segi arsitekturnya tentu bagian yang paling mencolok yang dapat kita lihat terletak pada atapnya. Bentuknya berupa susunan 3 persegi tebal yang semakin atas semakin kecil luas permukaannya. Itulah sebabnya bagian puncaknya tidak meruncing melainkan berbentuk datar layaknya bagian atas permukaan berbentuk persegi. Konon dulunya pada setiap lapis persegi ini dipasang sebuah berlian kecil yang akan berkilau ketika terkena cahaya.

Bangunan candi secara keseluruhan berbahan batu andesit dengan bentuk berdimensi yang geometris vertikal. Candi Kidal ini berpijak pada sebuah batur atau kaki candi dengan ketinggian 2 meter. Untuk masuk ke bagian tubuh candi Anda bisa menaiki tangga yang terpasang tepat di depan pintu masuk. Anak tangga yang dibuat rendah dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya membuat tangga ini tak nampak seperti tangga dari kejauhan.

Itulah sebabnya pada tangga Candi Kidal ini Anda juga tak dapat menemukan pipi tangga berbentuk ukel seperti lainnya. Keberadaanya tergantikan oleh tembok rendah berbentuk siku di samping kiri dan kanan serta sebagian bagian depan kaki tangga. Ini juga merupakan keunikan tersendiri yang terdapat pada candi yang menjadi candi pemujaan tertua di Jawa Timur ini.

Candi menghadap ke arah Barat sesuai dengan posisi pintu candi. Lengkap dengan sebuah hiasan Kalamakara di atas ambang pintunya. Bentuknya detilnya masih utuh hingga dari dekat terlihat sangat menyeramkan. Bagaimana tidak matanya yang melotot tajam sementara mulutnya terbuka dan memperlihatkan kedua taring besar dan bengkok yang menyiratkan betapa tajam taring tersebut.

Arsitektur Candi yang unik dan menarik lainya tentu pada relief-relief yang terlihat pada dinding-dinding candi. Relief yang menceritakan sebuah kisah mitos Garudheya yang akhirnya menjadi kendaraan Dewa Krishna. Mulai dari latar belakang hingga bagaimana besarnya pengorbanan yang ia lakukan untuk Sang Ibu.

Sejarah Candi

Candi Kidal dibangun pada tahun 1248 Masehi tepat setelah dilakukannya upacara pemakaman ‘Cradha’ untuk Raja Anusapati yang merupakan Raja dari kerajaan Singasari. Tujuannya tiada lain untuk mendarmakan Raja Anusapati agar Sang Raja mendapat kemuliaan setelah melewati kehidupannya di dunia. Kemuliaan tersebut tiada lain adalah menjadi Syiwa Mahadewa yang merupakan sebuah kehormatan untuknya.

Kisah Garudheya yang terdapat dalam relief di Candi ini menjadi simbol dari perjuangan Anusapati dalam menyelamatkan Ibunya dari penidasan yang dilakukan oleh Ibu tirinya. Kisah ini diyakini oleh masyarakat Jawa yang terkena pengaruh Hinduisme. Sebuah kisah pengorbanan Gharudeya untuk membebaskan Ibunya dari perbudakan dengan berusaha mengambil air amerta dari kahyangan. Hingga ia berperang melawan Dewa Krishna dan mengalami kekalahan. Sejak itulah imbalan air Amerta yang diberikan pada Gharudheya membuat Gaharudeya rela mengabdi untuk dijadikan kendaraan Bathara Wisnu. Sebuah kisah mengharu biru di Candi Kidal ini.***

8 Comments

Add a Comment