Candi Jago dan Pesonanya

Kali ini Candi Jago akan menjadi tempat jelajah candi berikutnya. Sebuah Candi yang diduga beraliran Siwa Budha yang berada di Kabupaten Malang. Candi ini nama aslinya adalah Candi Jajaghu yang berarti “keagungan”. Sebuah istilah yang seringkali dipergunakan untuk menunjukan sebuah tempat suci. Walaupun dari bentuknya memang terlihat tidak sempurna tapi di candi ini kita masih dapat menemukan sisa-sisa peradaban jaman kerajaan Singasari dulu.

Lokasi Candi Jago

Untuk menyambangi candi ini Anda bisa mendatangi Dusun Jago, Desa Tumpang. Sebuah desa di Kecamatan Tumpang yang secara adminisratif masuk Kabupaten Malang. Lokasinya yang berada di Desa Tumpang membuat candi ini sering disebut juga sebagai Candi Tumpang. Bahkan penduduk setempat seringkali menyebutnya Candi Tungkup. Semuanya mengacu pada sebuah bangunan candi yang sama yaitu ini Candi Jago.

Arsitektur Candi

Untuk melihat bagaimana arsitektur Candi Jago ini memanglah tak mudah. Terlebih karena pemugaran yang dilakukan belumlah sempurna. Masih banyak bebatuan yang tidak terpasang di tempat yang seharusnya ada, sehingga bangunan Candi belum terlihat utuh layaknya sebuah Candi. Namun secara garis besar yang khas tetap terlihat dari gaya punden berundaknya.

Bentuk yang dapat kita lihat sekarang hanya memperlihatkan bagian kaki candi dan sebagaian kecil tubuh candi yang berada pada teras ke-3. Tiga buah teras menjadi penyangga badan candi. Bagian depan teras bentuknya terlihat menjorok dari badan candi pada teras ke-3. Pintu masuk terlihat curam karena memiliki ruang yang sempit.

Sebagian atap dan badan candi terbuka sehinga para sejarahwan hanya bisa memperkirakan bentuk atap candi ini saja yaitu bentuk yang menyerupai Pagoda. Secara keseluruhan bangunan Candi Jago ini memiliki panjang 23,71 meter. Lebar 14 meter dan memiliki ketinggian 9,97 meter.

Sejarah Candi Jago

Sejarah berkaitan erat dengan asal usul Candi Jago ini. Hal ini disebutkan di dalam Dua buah kitab yang bernama Negrakertagama dan Pararaton termasuk nama asli candi ini. Tidak hanya itu, latar belakang pembangunan candi yang disebutkan sebagai bangunan Budhha Siwa. Sebuah aliran keagamaan yang di dalamnya merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari yang terletak sekitar 20 meter dari Candi Jago ini.

Dalam kitab tersebut disebutkan pula bahwa pembangunan candi yang dilakukan mulai tahun 1268 hingga 1280 Masehi ini sebagai bentuk penghormatan pada Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari yang ke-4. Keterkaitan erat antara Candi Jago dengan Kerajaan Singasari juga nampak dari berbagai ornamen yang menghiasi Candi. Selain merupakan perpaduan ajaran Hindu dan Budha, candi ini memiliki sebuah ornamen khas yang sempat menjadi trend pada jaman Singasari yaitu pahatan teratai dari bonggolnya yang terlihat terus menjulur ke atas.

Namun demikian Candi Jago ini termasuk candi yang sering menjadi Candi yang dituju dalam perjalanan Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Terutama dalam perjalanan yang dilakukannya pada tahun 1359 Masehi. Itulah sebabnya tak heran jika pada tahun 1343 Raja Adityawarman yang berasal dari Melayu memerintahkan untuk melakukan pemugaran pada candi ini di tahun 1343.

Beliau termasuk salah seorang yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk. Dan dari sini kita dapat melihat bahwa raja-raja jaman dahulu juga memiliki kebiasaan untuk memugar candi-candi yang telah ada sebelumnya. Terutama jika candi tersebut memiliki kesan atau sejarah tertentu bagi mereka atau saudara mereka.

Candi Jago dan Pesonanya

Relief Unik di Candi Jago

Bagian yang paling menarik dari Candi Jago ini adalah relief-relief yang terdapat pada candi. Jika kita lihat dari dekat maka kita dapat melihat ada 5 kisah klasik yang menarik pada relief-relief ini. Mulai dari relif yang terdapat pada kaki candi hingga lapisan-lapisan candi berikutnya. Tidak hanya yang berasal dari ajaran Budha tapi juga dari ajaran Hindu tentang hakikat kehidupan.

Relief pada kaki candi menceritakan tentang kisah Kunjarakarna yang merupakan tokoh raksasa yang taat pada Buddha. Ketaatannya ini membuat ia memiliki kedekatan denan para Dewa hingga ia berkesempatan melihat keadaan neraka yang mengerikan. Di tempat inilah ia menemukan temannya Purnawijaya hingga iapun meminta bantuan Dewa untuk menyelamatkan Purnawijaya dari siksa api neraka dan dikabulkan. Selain itu masih terdapat kisah Kunjarakarna lainnya yang menggambarkan betapa ketaatan dapat membuahkan sesuatu.

Relief lainnya yaitu kisah Arjunawiwaha yang mengisahkan mengenai para tokoh pandawa yang diusir dari istana. Mereka dibuang ke hutan selama 12 tahun hanya karena kalah bermain dadu melawan para kurawa. Arjuna yang termasuk salah satu Pandawa tersebut melakukan Tapa Brata hingga ia dihadiahi senjata sakti dari Dewa Siwa yang membantunya memenangkan pertempuran melawan para kurawa dalam perang Bharatayuda.

Kisah lainnya yaitu mengenai kisah fabel antara Buaya dan kerbau yang memiliki pesan moral mengenai kajahatan dan kebaikan. Bagaimana hakikat kebaikan dan kejahatan serta balasannya. Kisah Krishna juga diceritakan pada salah satu relief di Candi Jago ini. Mengenai Krishna kecil nakal yang mengerjai raksasa bernama Kalayawana yang akhirnya terbakar api karena tidak sopan kepada Resi Mucukunda yang menjadi tempat perlindungan Krishna kecil.

Well, ingin tahu kisah relief lainnya dengan lebih jelas? Jika Anda sedang berada di Malang tak ada salahnya mengagendakan Candi Jago sebagai salah satu tujuan wisata Anda.***

Add a Comment