Bung Tomo Pahlawan apa bukan seh??

 Kebangkitan Nasional, Pahlawan dan Keamanan Negeri

Bung Tomo Pahlawan apa bukan. Sering nerima broadcast gambar di bawah ini di BBM?
Ya..selama rangkaian Pemilu kali ini, berkali-kali gambar ini masuk ke BBMku. Tak jarang pula beredar di News Feed FB. Entah siapa yang bikin pertama, saya tidak tahu. Jadi tidak ada sumber yang saya cantumkan di gambar ini, mohon maaf.  Ntar kalo sudah ketemu sumbernya, akan saya cantumkan kemudian 🙂

Yang membuat hati tergelitik adalah, mengapa tokoh disana yang disebut Pahlawan, berasal dari luar negeri? Saya pribadi sebenarnya ngga gitu hapal dengan bentuk rupa karakter itu, yang menjadi tokoh anak muda sekarang. Mungkin saja ada Power Ranger, Ultra man, Voltus dsb. karena saya lahir di tahun 70-an. Tapi saya juga mengenal Superman, Batman, Spiderman dan segala tokoh pahlawan bikinan Hollywood. Lalu kenapa gambar ini tidak menampilkan tokoh-tokoh heroik Indonesia? Okelah kalaupun bukan tokoh nyata, bisa kita sebut Pendekar 212 Wiro Sableng, Si Buta dari Gua hantu, Naga Bonar, atau tokoh2 legenda Ken Arok, Gajah Mada, Arjuna dsb.

Lalu berseliweran pemikiran-pemikiran di otak saya, tepat hari ini yang dicanangkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Bung Tomo Pahlawan Nasional apa bukan seh?
Karena gelar kepahlawanannya juga baru beberapa tahun ini disahkan. Sebelumnya hanya jadi pergunjingan pro kontra.

Hari ini, apa yang bangkit dari Indonesia?
Apa makna Boedi Oetomo? Sjarikat Islam dan organisasi Pemuda lainnya pada kemerdekaan Indonesia?

Sepertinya anak muda skrg lebih hapal wajah Spiderman, Batman, Ironman, Ultraman, Naruto, Avatar dan tokoh heroik negeri antah berantah dibanding wajah Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro atau Kapitan Patimura.

Mungkin ada yang bakal nyebut: uhhmm.. hapal deng… itu nama jalan besar di Jakarta sama gambar duit seceng.
–  “I Gusti Ngurah Rai?
+ “Oh.. ada di duit mapuluhrebu, Tuanku Imam Bonjol itu jg nama jalan… area perkantoran”

–  “Sultan Mahmud Badarudin…,?”
+ ” ehm.. siapaa?? jarang denger. uhm.. gak ngeh jg kalo wajahnya ada di duit ceban dan nama lap. terbang di Palembang”

Mereka akan menghapal disaat mau ulangan Sejarah. Setelah itu lupa.Bahkan tokoh pahlawan nasional yang mereka genggam dalam lembaran uangpun belum tentu hapal. Yang diingat dengan baik adalah warna dan angkanya saja.

Truss banyak generasi muda bangsa termasuk kaum eksekutif muda sibuk caci maki negara tentang ini itu, mengorek2 yg emang masih kurang disana-sini. Kritik pedas sampai bahasa dari kebun binatang bisa bersuara dan beredar dari balik laptop, menunggangi internet.  Mulai dari Persoalan Korupsi, Penjajahan ekonomi, kesenggangan sosial dsb.

Bagus juga, sebagai masyarakat dan anak negeri punya kepedulian begitu besar kepada negara. Entah itu disampaikan dengan bermacam cara bergantung karakter pribadi masing-masing. Saya yakin banyak yang bersuara demi kemajuan bangsa dimasa yang akan datang. Tapi… kok ya sering kali kita lihat protes tersebut bersumber dari belum baiknya sarana kehidupan dan tata negara di negeri yang masih berproses ini. Gara-gara ulah segelintir manusia atau oknum bisa dibuat patokan mewakili sumber kebobrokan seluruh negeri. Dan akhirnya kita lupa siapa yang  berjuang untuk Indonesia bisa Aman seperti saat ini.

Mbak, mas, abang, adik, om, tante.. masih bisa makan, pergi bekerja, ke sekolah dengan aman,  tanpa ada perang ini siapa yang menjaga ya? Mungkin ada sebagian kecil rakyat yang belum mendapat hidup yang layak dan kekurangan fasilitas. Tetapi diantara 250an juta rakyat Indonesia, saya yakin lebih banyak yang hidup dengan AMAN. Sayangnya banyak yang lupa untuk hormat kepada para Pahlawan. Banyak yang tidak mengajarkan anak-anaknya untuk memaknai perjuangan para Pahlawan itu. Apa strategi mereka untuk bertahan hidup dan BANGKIT.

Yang sering diajarkan hanyalah pada tahun ini begini, tahun itu begitu.. memimpin pasukan ini dan mendirikan itu..dsb. Sehingga moral bangsa ini mulai tersentuh oleh gaya pahlawan dari negeri seberang yang sejatinya pasti punya karakter berbeda dengan negeri kita ini. Terjadilah perpecahan dan ini sangat riskan bagi sebuah negara kepulauan seperti kita. Secara geografis kita sudah terpecah-pecah oleh lautan dengan ratusan pulau-pulaunya. Secara etnis, dan agama ya sama saja, kita merupakan negara dengan begitu banyak perbedaan suku agama dan ras. Tidak mudah menyatukan negeri ini. Dan Jasa para pahlawan yang membuat kita bersatu bisa mengusung nama Indonesia.

Yuk kita kembali dulu ke awal perjuangan, napak tilas dan kita bicara runut. Setelah kata AMAN baru kita bicara NYAMAN. Hormati dulu para Pemelihara Keamanan negeri ini, baru kita bicarakan bagaimana membangun perekonomian dan tata negara yang baik demi rasa NYAMAN. Pendidikan salah satu proses untuk Bangkit dan Nyaman. Semangat pendirian Budi Utomo (Boedi Oetomo) oleh Bung Tomo juga sangat baik. Sayangnya, proses kebangkitan ini selalu Jatuh Bangun dan Jatuh lagi Bangun lagi dan Jatuh… ya..  masih seperti itu.

Karena apa? Karena kita ingin bicara Nyaman, tetapi masih mengusik persoalan keamanan dan akhirnya timbul masalah keamanan. Bahkan sering terjadi, masyarakat sangat tidak menyukai militer dan tidak menganggap penting sama sekali apa yang mereka kerjakan selama ini. Bolak balik seperti ini, tanpa banyak penghargaan terhadap pejuang keamanan. Padahal dalam sorban Pangeran Diponegoro dan Pedang Kapitan Patimura jiwa-jiwa militan itu bersemayam. Membuat Indonesia ada. Saat ini, jajaran TNI dan Polisi yang membuat kita bisa makan di warteg tanpa mendengar desingan peluru dan letusan senjata berseliweran. Apakah bijaksana kita memberlakukan pepatah KARENA NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA
mari kita renungkan bersama.

Semoga kita tidak memandang sebelah mata kepada para tentara negeri ini, para penjaga keamanan negeri ini, karena hanya merekalah untuk saat ini yang membawa jiwa dan ghiroh kepahlawanan. Menjaga negeri ini supaya tetap aman dan kita bisa BANGKIT.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional Indonesia 2014

 

 

 

 

One Response

Add a Comment