Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu yang Baik ?

Review from Journal Evi Indrawanto

Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu yang Baik?

Hampir semua ibu pasti pernah mempertanyakan kalimat diatas. Setidaknya bertanya pada diri sendiri ketika ada kesempatan bermonolog. Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu yang Baik ?. Kadang, pertanyaan itu tidak sekali saja kita ungkapkan. Seperti yang terjadi pada saya pagi ini. Setelah membaca artikel mbak Evi Indrawanto, kembali bertanya pada diri sendiri untuk yang kesekian kalinya. Hal ini juga dipicu dengan persoalan ibu dan anak yang baru terjadi semalam.
Tadi malam, anak gadisku yang sudah duduk di kelas XI pulang  sangat terlambat. Sejak tadi sore telepon genggamnya tidak aktif. Kirim pesan pendek, tak ada balasan. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Sebagai seorang ibu, kurasa sangat wajar untuk bersikap khawatir. Sehingga saya berusaha keras menahan amarah, ketika dia pulang ke rumah larut malam. Melapangkan dada mendengarkan penjelasannya, kenapa sampai pulang terlambat, dan ternyata teleponnya habis baterai. “Menjadi ibu  yang baik haruskah paranoid?” seperti yang di ungkapkan mbak Evi. Saya menarik nafas panjang, kemudian merenungkan kalimat ini. Karena mungkin saya memang tipe ibu yang paranoid.
Saya ingat bagaimana proses membesarkan kedua buah hati. Menerapkan metode yang dipelajari dari berbagai macam sumber. Buku teori pendidikan anak dan psikologi, juga berbagai artikel majalah parenting habis dilahap. Menggali ilmu dari pengalaman orang tua juga kakak-kakak. Dan yang paling penting adalah mengambil landasan pembinaan yang berasal dari kitab suci. Bagaimana agama juga mengajari kita tentang cara mendidik anak.
 
Dengan begitu percaya diri, saya selalu resign dari kantor, ketika anak-anak masih batita. karena saat itulah Golden Age mereka. Tidak pernah menggaji baby sitter dan sebisanya semua dikerjakan sendiri. Sampai seorang sahabat menjuluki “kutu loncat” karena sering berpindah tempat kerja. Ya.. semua demi anak. Masa pertumbuhan mereka tidak akan pernah kembali.
Saya berusaha merumuskan berbagai macam teori, berpikir telah menerapkan metode tanpa cela. Memasak semua makanan untuk mereka.  Bahkan rotipun saya buat sendiri, jarang membeli dari toko roti. Supaya terhindar dari MSG (Monosodium Glutamat) atau yang lebih dikenal dengan vetsin, juga zat adiktif lainnya. Kata seorang sahabat, saya itu “mama higienis” sambil tertawa.
Kemudian berusaha mengajari mereka dengan ilmu-ilmu pengetahuan dasar dan ilmu agama. Semua berjalan baik sehingga mereka tumbuh sehat dan berprestasi. Mereka termasuk anak-anak yang sopan dan tidak pernah mengucapkan kata kotor dan kalimat sumpah serapah seperti sering saya saksikan di lingkungan sekitar. Sampai tiba masa puber dan mereka beranjak remaja. 
Pengetahuan dari interaksi mereka bersama teman-temannya sedikit banyak berpengaruh pada perubahan pola pikir mereka. Belum lagi gempuran media televisi dan internet. Walau saya sangat membatasi nonton televisi, mereka akan dapat “ilmu sinetron” dari temannya. Saya selalu pasang Parental Lock di browser internet, mereka lebih canggih laksana hacker. Lagi-lagi didapat diluar, entah di lab. komputer sekolah atau di warnet.
 
Ternyata memang benar bahwa tidak ada hidup yang ideal. Segala teori dan metode yang menurut saya tanpa cela, sekarang sudah mulai tidak bisa diterapkan. Pola asuh ideal hanya mimpi belaka, yang ada hanyalah pola asuh maksimal. Seorang anak akan mengalami pengalamannya sendiri di luar sana. Mereka juga tidak mau lagi diperlakukan seperti anak kecil. Dan ini hal unik dari tiap individu, sehingga saya hanya bisa tertawa mengenang gaya “sok pede” saya.
“Walau sekarang mereka sudah besar, dimana sebagian perlindungan tak diperlukan lagi, masih sering muncul pertanyaan dari dalam batin, apakah saya sudah menjadi ibu yang baik?”  Kata-kata  mbak evi ini membenarkan semua pikiran saya saat ini. Mengingatkan bahwa persoalan seperti dialami oleh banyak ibu-ibu, bukan hanya saya sendiri. Inilah asyiknya ngeblog dan blogwalking. Kita bisa terhindar dari pikiran picik dengan saling berbagi pengalaman dan cara pandang.
 
Saya yakin, bukan kita sebagai seorang ibu nggak pede, tetapi ini hanyalah sarana kita untuk tetap mawas diri, evaluasi diri. Supaya tidak menjadi ibu yang lalai. Jadi ibu-ibu Parno itu biasa deh. 🙂 Sekarang walau dengan berat hati, saya mulai belajar membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri belajar mandiri. Yakinkan diri dalam hati,  yang penting kita sudah memberikan dasar pemahaman yang cukup kuat bagi mereka sebagai bekal. Kelak mereka dewasa, akan terjun dalam masyarakat tanpa ibunya menempel di balik punggungnya. Ibu hanya akan memandangi, mengawasi dan berbahagia apabila mereka melakukan hal yang berguna.
Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu yang Baik
Ini dia Ibu-Ibu Paranoid, walau Parno masih bisa ikut Seminar 🙂
BANNER EVIINDRAWANTO1 First Give Away Jurnal Evi Indrawanto

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

16 Comments

Add a Comment